Monday, July 18, 2011

Spreekt U Engels?

Tiba-tiba teringat jaman kuliah dulu…, ketika kelas speaking atau spreken—karena kami mempelajari bahasa belanda—kami sedang membahas soal, apa yang harus kami katakan—dalam bahasa belanda tentunya—kepada orang di jalan, jika kami tersesat atau kehilangan arah.

Setelah mempelajari berbagai jenis kalimat bertanya arah, dosenku tiba-tiba bertanya, “B! wat zou je zeggen?" (B! Apa yang akan kamu katakan?—jika tersesat tentunya.)

Temanku dengan tanpa ragu-ragu menjawab, “spreekt u engels?” (Do you speak English?) sambil tersenyum lebar.

Dosenku—yang kebetulan berbadan besar—hanya menjawab, “saya tiban ya kamu….”

Hahahaha…, masa-masa yang menyenangkan.

Saturday, July 16, 2011

Tan-ER!

Aku bertambah hitam!

Aku betul-betul bertambah hitam! Dan sialnya, aku tidak seberuntung orang-orang lain, yang ketika kulitnya bertambah hitam karena matahari, dalam hitungan waktu..., sudah kembali ke warna semua. Nooo..., not meeee. Aku membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan untuk bisa kembali ke warna semula. Yang--sad to say--gak putih-putih amat juga, hahahahhaha.

Tapi sebenarnya sih, aku tidak begitu mempermasalahkan warna kulitku yang bertambah hitam. Aku hanya 'gatel' ngeliat garis di tangan sebelah kiri-ku yang agak terang sedikit, karena bekas jam tangan. Kok, kayanya gak keren banget gitu.... hhuehuehuehue.


So, suatu hari, aku sedang video chat dengan adik dan ibuku di rumah. Ketika mereka melihat ku di layar komputernya di sebelah sana, adik ku tiba-tiba berkata:

J : Nay, kok gelap sih? gak gitu keliatan nih....
N : Ohh...bentar-bentar, gue nyalain lampu yang di meja gue dulu (dengan maksud menambah cahaya)
N : udah keliatan kan? lampunya baru gue nyalain
J : sama aja Nay, ternyata emang loe item deng....

kulang ajaaalll....hahahahhahaa.

Tapi, it's really unavoidable untuk menjadi hitam (baca: lebih gelap) saat summer di Jepang. Aku merasa mataharinya begitu terang..., bagaikan spotlight. Okelah, mungkin spotlight memang agak berlebihan, tapi aku serius..., setiap pagi ketika ke kantor..., matahari terasa begitu....terang.


Untuk menghadapi terang-nya matahari, para wanita disini menggunakan parasol. Bukan umbrella, tapi parasol. Sebuah payung yang hanya untuk bernaung dari sinar matahari. Bahkan ada beberapa yang sudah memakai parasol pun, masih menggunakan--how to say this--sarung lengan? Bukan sarung tangan..., karena bagian tangannya justru tidak ada. jadi betul-betul hanya untuk menutupi mulai dari lengan tangan sampai lengan bagian atas. Aku rasa, mereka sebegitu tidak inginnya menjadi hitam. Eh sebentar..., kulit mereka berbeda dengan kulitku. Kalau aku menjadi hitam, mereka akan menjadi merah. Think..., udang rebus..., yah, seperti itulah.

Kalau aku? tidak usah ditanya..., aku hanya menggunakan topi andalanku.... Me using parasol? Agak sulit untuk diriku sendiri pun, membayangkan jalan-jalan menggunakan parasol hitam dengan renda-renda. Kebanyakan parasol memang warna hitam dan berenda-renda. Tapi sisi baiknya adalah, di negara ini, mereka menjual topi dengan berbagai model! Huaa..., me likey hat.

Karena udara yang panas, dan karena kantorku juga mencanangkan program saving energy--selama musim panas, AC hanya akan dipasang di suhu 28deg--aku selalu menggunakan baju lengan pendek atau yang berbahan agak tipis. Tapi karena 'seseorang' agak rewel dengan masalah baju, aku harus memilih dengan hati-hati baju apa yang bisa aku gunakan di hari jumat, yang katanya, adalah casual friday, tapi ternyata menurut 'seseorang' itu tidak.

Aku mempunyai cerita yang terpisah untuk kasus diatas. Huh!

But anyways..., suatu jumat aku memutuskan untuk menggunakan kaos lengan buntung dan cardigans ke kantor. Aku pikir tentunya tidak sopan--untukku--jika menggunakan baju lengan buntung ke kantor, kan? Sampai tiba-tiba bos ku datang dan bertanya :

B : Natasha, kenapa pakai ini? dingin ka? (bos ku makin jago di bahasa indonsia)
N : No... O san, so I wouldn't get darker hahahah....joking..., joking.... (jawaban paling ngasal di seluruh dunia, karena aku malas menjelaskan kalau aku pake baju lengan buntung)
B : Ha? Did you already get sun tan?
(dalam hati, boooo..., gue emang udah tan dari duluuuu..., sekarang jadi tan-ER!)
N : Yeesssss! (sok prihatin en nunjukin garis bekas jam tangan di lengan) see?
B : hoo yaa..., but Indonesia is also hot ya?
N : Yes, but I dont walk as much as in Japan, I can use ojek or angkot yaa....
B : Yes, you are correct.

Akhirnya dia pergi..., tapi aku rasa dia tidak menangkap kata "joking" yang aku lontarkan, dan menganggap serius kata-kataku..., oh well....

Sunblock spf 100, here I come!

Wednesday, July 13, 2011

Anniversary?

Ketika sedang ber-email-email-an ria dengan seorang temanku, yang kebetulan adalah salah satu penggemar blog ku ini. (Aku yakin dia akan membaca blog-ku ini, dan akan memberi komentar hahaha....) Dia berkata, "Nay, loe bikin anniversary blog loe, dong."

Hah? Anniversary? Saat itulah aku baru menyadari bahwa ternyata sudah 4 tahun sejak aku menulis di blog ini. 4 years??? 4 YEARS??? Kemana perginya 4 tahun itu, kok, rasanya cepat sekali?

Ketika aku mulai menulis blog ini, aku baru berumur..., ehm..., oke marilah kita anggap topik kalimat awal tadi tidak pernah terlontar, dan beralih ke topik lain. Sekarang.

Mengubah haluan topik.

Ternyata aku sudah mulai menulis sejak tahun 2008. Tak kusangka, aku cukup konsisten juga untuk menulis di blog ini, hehehehhe.

Mungkin benar juga kata temanku itu. Sepertinya seru juga kalau aku bisa menulis edisi anniversary. Walaupun cukup membingungkan juga, mesti nulis apa toh?

Thursday, July 7, 2011

Heli..., guk..., guk..., guk...!

Baiklah, aku akan mengakui aku memang sering sekali melakukan banyak hal-hal bodoh. Seperti mulai menari-nari di Timezone, karena menikmati lagu yang sedang dimainkan kakakku di permainan menabuh drum, misalnya. Sebentar..., itu sebenarnya melakukan hal bodoh? atau gak tau malu?

Anyways....

Pagi ini, tiba-tiba aku teringat sebuah hal bodoh yang pernah aku lakukan ketika masih bekerja di hutan dulu. Ketika itu, semua orang sedang pergi ke lapangan, dan hanya ada aku, dan seorang temanku si "I" (Dia adalah orang yang sama yang menertawaiku, ketika aku jatuh, kalau-kalau ada yang pernah membaca blog-ku yang itu). Kami sedang asyik mengobrol, dari bangku kami masing-masing, tidak mau repot berdiri dan menghampiri yang lain, berteriak agar yang lain mendengar.

Aku bahkan tidak ingat apa inti dari pembicaraan kami, sampai tiba-tiba aku memutuskan untuk menyanyikan sebuah lagu..., "Heli! guk..., guk..., guk...! Kemari..., guk..., guk..., guk...." Tiba-tiba aku mendengar suara orang tertawa dari belakangku....


what?!?!?!? Aku langsung menengok....

Ternyata ada seorang Jepang yang sedang duduk dengan manisnya di kursinya di belakangku. Ruangan ini, ada dua pintu masuk, dari depan dan belakangku, aku pasti tidak menyadari ketika dia masuk dari belakang tadi....

Dia bertanya, "Natasha, what are you singing?"

Aku hanya bisa cengengesan..., "It's a children song, about a dog...." Masih sambil cengengesan....

Dia hanya tersenyum-senyum mendengar jawabanku, dan melihat kelakuanku juga, kurasa.

Yah, sudahlah, hitung-hitung aku menghibur seseorang....

Saturday, May 28, 2011

Lost In Translation

Sudah hampir 2 minggu aku tinggal disini. Dan selama hampir 2 minggu itu juga, aku lost in translation. Seperti yang kubilang, ternyata tidak begitu banyak orang yang mengetahui bahasa inggris disini. Jika kita ke restaurant, atau coffee shop, or whatever, mereka juga tidak menggunakan bahasa Inggris. Akhirnya? Kami akan menggunakan bahasa isyarat, bahasa tubuh, dibumbui dengan sedikit bahasa kalbu.

Begini ceritaku ketika aku akan membeli roti dan ketika aku akan membuat Alien card ke kantor kecamatan setempat.

Memasuki toko roti, aku mengambil beberapa roti dan akan membayar. Ketika berdiri di depan kasir :

K : blablablabla (berbicara dengan bahasa jepang)

N : mengangguk-angguk (menduga sepertinya ia menyambut pelanggan yang datang)

K : blablablablabla? (berbicara dengan bahasa jepang, sepertinya bertanya, karena diakhiri dengan nada meninggi)

N : English?

K : blablablablabla ? (lagi-lagi menggunakan bahasa jepang)

-----sama-sama bengong sambil liat-liat-an-----

K : (tiba-tiba menggunakan bahasa isyarat, menunjuk kedepan-kebawah-kedepan-kebawah)

---- kembali sama-sama bengong -----

N : Aaaahhh! (Menunjuk ke luar sambil tersenyum lebar)

K : Haik! Sambil tersenyum dan mulai membungkus roti yang kubeli.

Ternyata, dari tadi dia ingin bertanya, mau dimakan di tempat, atau mau dibawa pulang? Maann, mereka bahkan gak bisa bilang “dine-in” or “take-out” ?!?!?!

Lain cerita ketika aku akan membuat Alien card di kantor kecamatan setempat. Aku yang sering disorientasi arah ini, hanya dibekali dengan peta untuk menemukan tempat itu. Untungnya, untung sekali…, ada seorang lain di kantor, yang harus membuat kartu yang sama denganku.

Sesampainya disana, kami mengambil nomor antrian untuk loket foreigner registration. Aku berasumsi bahwa, karena ada loket khusus untuk foreigner, maka si penjaga loket pastinya bisa berbahasa inggris.

SALAH BESAR.

Bahkan tidak ada satu kata pun ia mengerti. Ketika giliranku untuk maju, yang membantuku adalah seorang pria muda yang bergaya cukup gaul.

Dia mulai berbicara dengan bahasa jepang…. Aku cengo.

Akhirnya dia menandai bagian mana di formulir yang mesti aku isi…. Aku mengangguk-angguk.

Dia mulai berbicara lagi dengan bahasa jepang…. Aku cengo.

Karena ada satu kata yang aku mengerti dari kalimat yang diucapkannya, aku berbicara dengan bahasa inggris, ceritanya ingin mengkonfirmasi…. Dia cengo.

Akhirnya kami hanya saling memandang…, dan aku memutuskan untuk mengisi formulirnya saja. Ketika selesai aku mengambil nomor antrian lagi. Sepertinya ini yang dari tadi dimaksud oleh si petugas gaul.

Ketika aku maju untuk yang kedua kali, yang maju seorang ibu-ibu. Kejadiannya tidak jauh berbeda dengan tadi.

Dia berbicara…. Aku cengo

Aku berbicara…. Dia cengo

Aku rasa sekarang, aku mulai mengerti dengan kata-kata, ‘mata adalah jendela ke hati.’ Disini, ketika kami sudah tidak saling mengerti, biasanya kami hanya saling liat-liat-an…, dan akhirnya bisa terjadi kesepakatan diantara kedua belah pihak. Tidak tahu apakah benar-benar sepakat, atau hanya iya-iya saja, supaya cepat. Hehehhee.

Intinya, akhirnya pendaftaranku selesai..., dan akhir bulan aku bisa kembali untuk mengambil alien card yang sudah jadi. Sepertinya akan ada sesi saling memandang lagi akhir bulan nanti....

Monday, May 16, 2011

Yokoso Japan!

Sekitar 1 Minggu yang lalu, aku tiba di Negara ini.

Aku mengucapkan selamat tinggal untuk Indonesia, dan Hallo Jepang! Aku di-assign oleh kantor untuk bekerja disini selama beberapa tahun kedepan. Kesulitan terbesar ketika tiba adalah, selain dari kendala bahasa adalah, tidak ada-nya satu petunjuk pun yang bisa aku mengerti, karena mereka tidak menggunakan bahasa latin. Untungnya aku sudah mendapatkan petunjuk untuk apa yang harus dilakukan ketika tiba.

1. Telpon orang apartment menggunakan telpon umum, untuk konfirmasi kedatangan

2. Beli tiket bus ke stasiun Yokohama

3. Tunggu orang apartment yang akan menjemput di Statiun, lobby 2.

Petunjuk yang diberikan sebenarnya cukup jelas…, bahkan ada keterangan gambar…, tapi ternyata, kenyataan berbicara lain. Telpon umum? Yang mana? Karena ada 3 berderet dengan warna yang berbeda. Setelah mondar-mandir dan celingak-celinguk gak jelas di depan telpon umum, menggunakan salah satu telpon yang tidak berhasil-berhasil juga…, tiba muncul suara dari langit dari belakang, “excuse me…, local or international?” Seorang ibu-ibu menyapaku, kayanya dia melihat ada sebuah tanda tanya besar di jidatku. Thank goodness ternyata dia bisa bahasa inggris, walaupun terbata-bata, tapi dalam situasi seperti ini I’ll take what I can get.

Akhirnya misi pertama dan kedua selesai. Ketika sampai di stasiun, aku merasa sepertinya aku berada di ruangan yang adalah lobby 2. Tapi kenapa tata ruangannya berbeda dari yang di foto? Satu-satunya hal yang masih sama adalah letak sebuah telpon umum di pojok ruangan. Baiklah, kita asumsikan bahwa ini adalah ruangan yang betul. Tidak sampai setengah jam menunggu, datanglah si orang apartment menjemput.

Aku tahu bahwa jepang ini adalah sebuah negara dengan tata ruang yang sangat minimalis. Tapi ketika aku tiba di apartment-ku aku cukup terkejut. Untuk membuat segala sesuatu singkat, jika ada yang ingin datang menginap…, silahkan pilih mau tidur di wc, atau di wastafel. Oh ya…, mulai sekarang aku akan menyebutnya kamar kos. Selesai menunjukkan segala sesuatu…, si orang apartment kamar kos pun pergi. Aku berkeliling memeriksa ruangan lebih teliti. Kompor listrik, rice cooker, water heater, microwave, setrika, hair dryer, mesin cuci, panci, penggorengan, semua sudah tersedia. Hanya ada satu masalah, aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan kompor, sementara aku sudah kelaparan. Akhirnya yang bisa aku lakukan adalah, meng-sms salah satu temanku disini. “Mas, gue laper en gue gak tau cara make kompornya.” Untungnya temanku itu kebetulan akan keluar juga, jadilah ia menjemputku ke kamar kos-ku, dan akhirnya kami semua pergi bersama.

But anyways, itulah kurang lebih pengalaman ketika tiba di Negara ini. Masih banyak hal lagi yang ingin aku ceritakan…, tapi tunggu di blog selanjutnya.