Jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat duapuluh menit di pagi hari, tapi aku sudah mengantuk. Aku memang mempunyai ‘reputasi’ dengan kebiasaan mengantukku ini. Sewaktu kecil dulu, aku bisa tertidur di tengah makan siangku. Lalu ibuku akan menggendongku ke kamar, sementara di mulutku masih ada sesendok penuh nasi. Di keluargaku, hal ini bukanlah hal yang aneh, aku memang sering melakukan hal itu. Bahkan sampai sekarang pun, di tengah-tengah makan, aku masih sering merasa ngantuk, dan akhirnya pergi tidur, tanpa menyelesaikan makananku.
Jika kami bepergian dengan kendaraan pun sama. Begitu kami naik di dalam mobil, tidak ada sepuluh menit, aku akan segera tertidur, dan terbangun ketika kami sudah sampai tujuan. Tapi jika naik pesawat, terutama pesawat besar seperti Garuda misalnya, aku justru sama sekali tidak bisa tidur, aku tidak tahan terhadap guncangan sekecil apapun, jika sedang naik pesawat itu. Entah kenapa aku lebih bisa tidur nyaman di pesawat kecil yang hanya muat untuk 15 orang, dan bisa tertidur pulas mulai dari take-off, hingga akan landing, dibanding naik pesawat Garuda yang besar itu.
Karena ‘reputasi’ ini juga, sewaktu kelas 3 SD, aku pernah terkena masalah. Aku pernah tertidur di kelas pada jam pelajaran agama, hehehhe. Kebetulan guru yang mengajar itu adalah seorang bapak-bapak yang sudah tua. Suaranya pelan, dan ia selalu memakai minyak angin yang mengingatkanku pada opa-ku. Waktu itu, aku ingat sekali aku duduk di deret kedua dari belakang. Aku bahkan tak ingat kapan aku tertidur. Yang aku ingat adalah, tau-tau ada seseorang yang menyolek tanganku. Ternyata yang nyolek itu, si guru agamaku. Udah gitu, parahnya, di dalam tidurku, aku bermimpi aku sedang duduk menyimak pelajaran agama yang sedang diberikan guruku.
Bahkan sekarang, ketika sudah bekerja pun, aku masih sering mengantuk. Sampai pernah di suatu siang, ketika matahari bersinar terik di luar, sementara aku duduk di mejaku, menikmati dinginnya ruangan, sambil mengantuk, karena suasana yang sepi, aku tertangkap oleh atasan-atasanku sedang mengantuk, dengan mata yang merem-melek, kepala mulai mengangguk-angguk kedepan dan kebelakang. Yak, betul, atasan-atasan, berarti jamak, lebih dari 1 orang, karena yang satu orang jepang, yang satunya lagi orang India. Sial banget rasanya waktu itu, ehhehehhe. Akhirnya si atasanku yang Jepang itu, malah meledekku dengan menirukan gaya mengantukku. Sialan. But what the heck, kejadian itu juga, udah 2 tahun yang lalu sih, walapun sampai sekarang aku belum juga bisa melupakannya, semoga saja mereka sudah bisa melupakannya. Amin.
Anyways, back to today. Aku mengantuk, lagi, dan selalu. Akhirnya, seperti biasa, jika aku mulai mengantuk, aku pergi ke wc, mengunci pintu, dan menutup mata sebentar. Setelahnya bikin kopi segelas, yang pada akhirnya, hanya diminum beberapa teguk saja. (aku tidak terlalu menyukai kopi). Jika masih mengantuk juga? Aku akan berjalan mengganggu teman-teman kantorku. Hey, mumpung bos-ku lagi bisnis trip ke Jakarta, gak ada salahnya, kan? I mean, When the cat’s gone, the mouse are partying. Although in my case, aku sudah hampir sudah tidak peduli lagi, apakah bosku ada atau tidak. Kalau ngantuk sih, ngantuk aja…, ehhehhehhe….
Tidur yuuukkk….!!!
Monday, November 3, 2008
Sunday, September 7, 2008
Saturday, September 6, 2008
Chocolate? No, Thank You
Give me chocolate ice cream
Give me chocolate cake
Give me chocolate milkshake
Give me chocolate pudding
Just, don’t give me chocolate.
Yes, People, I don’t eat chocolate.
Saya juga, baru menyadari hal ini, semenjak kuliah. Beberapa orang yang mengetahui ini tentang saya akan berkomentar. Tumben, cewe enggak suka coklat ? Well, as a matter of fact. I don’t.
Anda bisa memberikan coklat terenak dari Swiss, Jerman, Perancis atau Negara manapun yang dikatakan sebagai pembuat coklat terenak di dunia, saya tetap tidak akan memakannya. Saya mungkin akan, mencoba 1 potong kecil saja, dan untuk 1 potong kecil itu pun, saya akan memerlukan waktu lama untuk memakannya. Kalau sudah terlalu lama, setelah 1 atau 2 gigitan kecil di ujung, coklat itu biasanya akan berakhir di tempat sampah. Bahkan untuk sepotong Beng-beng pun, saya bisa menghabiskan waktu antara setengah sampai satu jam untuk menghabiskannya. I just don’t like chocolate.
Tapi bukan berarti saya tidak menyukai rasa coklat ya, anda salah. Saya justru sangat menggemarinya. Roti coklat, es krim coklat, pudding coklat, susu coklat, milk shake coklat, coklat mousse, coklat cake. Semuanya saya suka. Bahkan jika harus memilih rasa es krim, atau kue, dan sejenisnya, saya pasti akan memilih rasa coklat. Tapi justru coklatnya sendiri, sebuah coklat batang, saya tidak akan memakannya.
Selama saya bekerja disini, saya sering sekali mendapatkan coklat. Akhirnya hal yang sering terjadi adalah, coklat-coklat itu akan berakhir di laci meja saya. Ketika dibuka, laci saya bisa penuh dengan coklat-coklat seperti Silver Queen, Toblerone, Cadburry, Beng-beng, Kit-Kat, Ferero Roche, dan coklat-coklat dari jepang yang dibawa oleh bos saya. Lalu bagaimana dengan nasib semua coklat-coklat itu? Biasanya saya pakai sebagai bahan sogokan, hehhehehhe.
Saya : Jay, bookingin tiket dong, untuk hari rabu minggu depan.
Jaya : Yah, dah, penuh, Nay….
Saya : Ayo dong Jay, cariin tempat…, nanti gue kasih Kit-Kat, deh….
Jaya : Ya udah, entar gue liatin…. (kalau dia sudah ngomong begini, biasanya pasti dapat !!!)
Atau….
Saya : Yon, printer di tempat gue rusak nih…, tolong dong, gue perlu nge-print banyak soalnya…
Yon : Bentar ya, Nay, gue mesti pergi dulu nih, entar pas gue balik deh,
Saya : Yah…, sekarang aja deh, nge-printnya buat meeting nih, gue kasih Beng-beng, deh.
Yon : Ya udah, tunggu bentar, gue datang kesana…. (Berhasil lagiiii!!!)
Walaupun tidak berakhir di perut saya sendiri…, tapi coklat-coklat simpanan itu, cukup berguna juga ^_^
Give me chocolate cake
Give me chocolate milkshake
Give me chocolate pudding
Just, don’t give me chocolate.
Yes, People, I don’t eat chocolate.
Saya juga, baru menyadari hal ini, semenjak kuliah. Beberapa orang yang mengetahui ini tentang saya akan berkomentar. Tumben, cewe enggak suka coklat ? Well, as a matter of fact. I don’t.
Anda bisa memberikan coklat terenak dari Swiss, Jerman, Perancis atau Negara manapun yang dikatakan sebagai pembuat coklat terenak di dunia, saya tetap tidak akan memakannya. Saya mungkin akan, mencoba 1 potong kecil saja, dan untuk 1 potong kecil itu pun, saya akan memerlukan waktu lama untuk memakannya. Kalau sudah terlalu lama, setelah 1 atau 2 gigitan kecil di ujung, coklat itu biasanya akan berakhir di tempat sampah. Bahkan untuk sepotong Beng-beng pun, saya bisa menghabiskan waktu antara setengah sampai satu jam untuk menghabiskannya. I just don’t like chocolate.
Tapi bukan berarti saya tidak menyukai rasa coklat ya, anda salah. Saya justru sangat menggemarinya. Roti coklat, es krim coklat, pudding coklat, susu coklat, milk shake coklat, coklat mousse, coklat cake. Semuanya saya suka. Bahkan jika harus memilih rasa es krim, atau kue, dan sejenisnya, saya pasti akan memilih rasa coklat. Tapi justru coklatnya sendiri, sebuah coklat batang, saya tidak akan memakannya.
Selama saya bekerja disini, saya sering sekali mendapatkan coklat. Akhirnya hal yang sering terjadi adalah, coklat-coklat itu akan berakhir di laci meja saya. Ketika dibuka, laci saya bisa penuh dengan coklat-coklat seperti Silver Queen, Toblerone, Cadburry, Beng-beng, Kit-Kat, Ferero Roche, dan coklat-coklat dari jepang yang dibawa oleh bos saya. Lalu bagaimana dengan nasib semua coklat-coklat itu? Biasanya saya pakai sebagai bahan sogokan, hehhehehhe.
Saya : Jay, bookingin tiket dong, untuk hari rabu minggu depan.
Jaya : Yah, dah, penuh, Nay….
Saya : Ayo dong Jay, cariin tempat…, nanti gue kasih Kit-Kat, deh….
Jaya : Ya udah, entar gue liatin…. (kalau dia sudah ngomong begini, biasanya pasti dapat !!!)
Atau….
Saya : Yon, printer di tempat gue rusak nih…, tolong dong, gue perlu nge-print banyak soalnya…
Yon : Bentar ya, Nay, gue mesti pergi dulu nih, entar pas gue balik deh,
Saya : Yah…, sekarang aja deh, nge-printnya buat meeting nih, gue kasih Beng-beng, deh.
Yon : Ya udah, tunggu bentar, gue datang kesana…. (Berhasil lagiiii!!!)
Walaupun tidak berakhir di perut saya sendiri…, tapi coklat-coklat simpanan itu, cukup berguna juga ^_^
Friday, August 29, 2008
Foto Time!!!
Sejak saya bekerja di Papua ini, saya jadi mempunyai kebiasaan baru. Senang difoto!!! Banyak sekali teman-teman saya disini yang mempunyai hobi fotografi, seperti, Sandy, Keisar, Juis, Alex, Alex. Intinya sih, anda suka memfoto? Kami suka difoto!!! Hehheheheh….
Jadi untuk halaman ini, saya akan memberikan beberapa foto kami…enjoy!
Foto ini diambil dekat dari Tank-2, tempat Liquified Gas nantinya akan ditampung.

Di foto di dekat Construction Jetty, tempat kapal-kapal masuk untuk bongkar muatan. Fotonya kaya anak band, gak sih?
Jadi untuk halaman ini, saya akan memberikan beberapa foto kami…enjoy!
Foto ini diambil dekat dari Tank-2, tempat Liquified Gas nantinya akan ditampung.
Di foto di dekat Construction Jetty, tempat kapal-kapal masuk untuk bongkar muatan. Fotonya kaya anak band, gak sih?

Masih di foto di tempat yang sama dengan diatas.

Foto box!!
Handphone…Cellphones
2 Hari yang lalu, handphone saya hilang! Oke, lah, mungkin bukan hilang, tapi tertinggal, dan untungnya teman saya menemukannya, dan memberikannya kepada saya. Kalau tidak, tentunya handphone itu akan beneran hilang!
Kejadiannya ketika makan pagi di messhall (baca: kantin). Saya mempunyai kebiasaan untuk menaruh handphone saya si saku belakang celana. Jadi, ketika duduk—karena tidak nyaman—saya akan mengeluarkannya dari saku, dan meletakkannya di meja. Pagi itu, tidak seperti pagi-pagi lainnya, saya lupa untuk mengambilnya lagi! Ketika saya dan Thely, sudah menuju bukit, tiga langkah menuju security untuk scan ID badge, tiba-tiba saya merasa ada hal yang aneh. Kantong belakang saya terasa kosong. Ternyata benar saja, handphone saya, tidak berada di tempat yang ‘semestinya.’ Akhirnya saya balik lagi ke messhall, untuk mencari. Untungnya, belum sempat masuk ke dalam, teman saya sudah keburu mengambilkannya buat saya.
Saya jadi berpikir. Ketika handphone itu, tidak ada pada saya, saya merasa ada ‘sesuatu’ yang hilang. Sepertinya dengan ketidak-adaan handphone tersebut, saya akan mempunyai kesulitan yang lumayan besar. Padahal, dulu ketika saya belum mempunyai handphone, tidak pernah saya merasakan semua hal-hal itu?
Saya mempunyai handphone baru sekitar tiga tahun belakangan ini. Bahkan belum sampai tiga tahun. Sejak SMA, ketika handphone sudah mulai ‘in,’ tidak pernah terpikirkan untuk membelinya. Bahkan selama masa 4 tahun kuliah pun, saya tetap tidak mempunyai handphone. Sampai-sampai pernah terjadi hal demikian :
Hujan sedang turun dengan derasnya. Saya baru saja sampai di rumah, pulang dari kampus. Telpon berdering, teman kampus saya yang menelpon.
M : Tash, loe ada dimana ?
Tash : (Hallooo…..saya menerima telpon dari rumah kaann??) udah di rumah nih.
M : Udah nyampe rumah loe? Bu Ari bilang, paper kritik sastra kita, mesti diambil sekarang ke jurusan untuk perbaikan, besok soalnya dia udah cuti.
Tash : Haaaaa?!?!?!? Sekarang??? Ya udah, gue balik ke kampus lagi!!
Akhirnya, dari daerah Kebayoran Baru, kembalilah saya menuju Depok, dalam keadaan hujan deras. Tapi bahkan ketika hal itu terjadi pun, tetap saya tidak beranggapan sangat penting bagi saya, untuk mempunyai handphone.
Pada akhirnya saya membali handphone setelah saya bekerja. Dengan hasil jerih payah bekerja 2 bulan, dengan segala uang lembur, akhirnya saya mampu membelinya. Tapi setelah itu, saya bokek, sehingga harus bergantung pada kakak saya selama 1 bulan itu, sampai gajian lagi. Hehehehhehe….
Well, intinya sih, sebenarnya kita membiasakan diri kita sendiri dengan ‘kebutuhan-kebutuhan’ ini. Pada saat kita belum memilikinya dulu, semua berjalan biasa saja. Dunia tetap berputar, kan?
Tuesday, August 26, 2008
In het Nederlands
Gisteren, heeft mijn vriendin aan mij gevraagd, “Kan je nog in het nederlands spreken?”
En ik zei “Ik denk van wel”
En nu? Ik ben niet meer zo zeker.
Het is al lang dat ik Nederlands verlaten. Al te lang.
Mijn vriedin vroeg, “wil je niet een baantje dat een relatie met jouw studie achtergrond heeft?
Ik dacht, nu ik weet niet als het nog belangrijk of niet. Wat belangrijk is dat ik een baan heeft. Het is alsof ik geen principe heeft, is het?
Eigenlijk, mis ik het nederlands. Vroeger, kon ik zo’n lange letter aan mijn vriedin geschreven. Ik kon alles in het nederlands vertellen. Alles.
Nu? Kan ik het nog doen?
Voor zo’n korte stuk, moet ik in een paar minuutje denken.
Is mijn spelling nog correct? Is mijn wordvolgorde nog correct? Is mijn grammatica nog correct?
Ik moet meer oefenen *sigh*
En ik zei “Ik denk van wel”
En nu? Ik ben niet meer zo zeker.
Het is al lang dat ik Nederlands verlaten. Al te lang.
Mijn vriedin vroeg, “wil je niet een baantje dat een relatie met jouw studie achtergrond heeft?
Ik dacht, nu ik weet niet als het nog belangrijk of niet. Wat belangrijk is dat ik een baan heeft. Het is alsof ik geen principe heeft, is het?
Eigenlijk, mis ik het nederlands. Vroeger, kon ik zo’n lange letter aan mijn vriedin geschreven. Ik kon alles in het nederlands vertellen. Alles.
Nu? Kan ik het nog doen?
Voor zo’n korte stuk, moet ik in een paar minuutje denken.
Is mijn spelling nog correct? Is mijn wordvolgorde nog correct? Is mijn grammatica nog correct?
Ik moet meer oefenen *sigh*
Thursday, August 21, 2008
Cuma asem dikit kok!
We’re deseperate!
Betul, kami sangat ‘desperate’ kalau menyangkut soal makanan. Makanan di tempat kami ini, selain tidak ada rasa—sebenarnya lebih sering ke arah tidak enak. Menunya juga membosankan. Entah kenapa, koki disini sepertinya suka sekali dengan bumbu kari India. Ayam dengan bumbu kari, ikan dengan bumbu kari, daging dengan bumbu kari. Katanya nasi goreng, tapi baunya bau kari, huueekkk….!!!
No offense to you all Indian food lovers out there. Tapi kalo seminggu bisa 3 kali, kaya begini, selama 4 bulan berturut-turut, kan, bosan juga?!?!?!?
Akhirnya, kalau ada orang yang datang dari Jakarta, mereka pasti akan dititipin makanan. Rendang, sambal ijo, sambal merah, sambal apalah yang penting sambal dan enak. Kering tempe, kering kentang, kering teri, semua kering-keringan yang bisa bertahan selama beberapa minggu, dll, dst, dsb, dkk. Karena rasa ‘desperate’ ini jugalah, selama itu makanan impor dari luar Papua, biar udah lewat 1 atau 2 hari, walaupun udah asem-asem dikit, selama masih bisa dimakan. Pasti akan habis juga ‘dibabat.’ Hehhehee….
Seperti pernah, ketika ada seseorang yang membawa pempek, menurut dugaan, pempek itu, sepertinya sudah berumur lebih dari 2 hari. Tapi emang dasar, karena disini, pempek itu masuk kategori extinction, biar udah rada asem, ‘hajar’ aja! Yang terjadi saat itu, kurang lebih seperti ini.
A : “Mbak, kok pempeknya rada asem ya?”
B : “Iya, ya…, udah tambahin kecap aja, biar asemnya gak terasa,”
A : “Oh iya, bener juga ya, mbak.”
Atau di saat yang lain….
T : “Nai, loe kesini Nai, ada bakpia nih.”
Nai : “Mana bakpianya, mbak ?”
T : “Ini, ada disini, ” sambil menunjuk sebuah kotak berisi bakpia. “Tapi loe ambil yang sebelah ujung sini ya, yang sana, udah jamuran. Gak pa-pa kok, tadi kita udah makan satu. ”
Nai : Mengambil bakpia, sambil meneliti dengan seksama, jangan-jangan udah jamuran juga.
Masih soal bakpia.
Nai : “Mbak, ada bakpia nih, mau gak?”
T : “Nai, kayanya bakpianya udah gak bagus deh, nih, liatin, dalemnya udah agak basah kan ? ”
Nai : “Masa sih mbak ? tadi aku makan satu kayanya biasa-biasa aja,”
Masih penasaran jadinya nyari korban lain….
Nai : “Wil, loe mau bakpia ga ? katanya mbak Tati sih, udah gak bagus, soalnya dalemnya mulai basah. Tapi gue udah makan satu, kayanya baik-baik aja….”
Wil : mengambil satu dan mulai menggigitnya, “ kayanya emang udah rada asem sih…” tapi tetap memakannya sampai habis..
Nai : “Masa sih ? Ya udah, lah, gak akan mati juga kan ? ”
Atau…
E : “Nai, loe buruan kemari, si Tony bawa J-co. ”
Nai : “He ? Tony kan, datengnya udah dari 2 hari yang lalu, mbak ? Dapet J-co darimana ? ”
E : “Si Tony tuh, emang dasar merki, punya makanan disimpen sendiri, udah tau juga, orang disini kesusahan. Itu donat, disimpen ama dia di kamar! Gue udah makan satu, agak asem dikit sih, tapi gak pa-pa kok. Tuh, buruan loe ambil satu. ”
Nai : “I…ya, makasih ya mbak. ” Sambil memilih sebuah donat yang kira2 belum asem.
Memang sih, keadaan tidak selalu seperti itu. Tapi kalau sudah ada makanan impor dari Jakarta. Biarpun udah penyek atau hancur, pasti tetap akan diserbu…, ehehehehhe.
Kalau sudah menyangkut pantas atau tidaknya sebuah makanan-makanan serupa untuk disantap, biasanya akan keluar perkataan seperti ini.
“Makan makanan terlalu bersih juga, gak baik untuk perut. Lagian gak akan mati kan? Palingan juga sakit perut bentar. Abis itu juga sembuh….”
Hehehhehe….parah…
Betul, kami sangat ‘desperate’ kalau menyangkut soal makanan. Makanan di tempat kami ini, selain tidak ada rasa—sebenarnya lebih sering ke arah tidak enak. Menunya juga membosankan. Entah kenapa, koki disini sepertinya suka sekali dengan bumbu kari India. Ayam dengan bumbu kari, ikan dengan bumbu kari, daging dengan bumbu kari. Katanya nasi goreng, tapi baunya bau kari, huueekkk….!!!
No offense to you all Indian food lovers out there. Tapi kalo seminggu bisa 3 kali, kaya begini, selama 4 bulan berturut-turut, kan, bosan juga?!?!?!?
Akhirnya, kalau ada orang yang datang dari Jakarta, mereka pasti akan dititipin makanan. Rendang, sambal ijo, sambal merah, sambal apalah yang penting sambal dan enak. Kering tempe, kering kentang, kering teri, semua kering-keringan yang bisa bertahan selama beberapa minggu, dll, dst, dsb, dkk. Karena rasa ‘desperate’ ini jugalah, selama itu makanan impor dari luar Papua, biar udah lewat 1 atau 2 hari, walaupun udah asem-asem dikit, selama masih bisa dimakan. Pasti akan habis juga ‘dibabat.’ Hehhehee….
Seperti pernah, ketika ada seseorang yang membawa pempek, menurut dugaan, pempek itu, sepertinya sudah berumur lebih dari 2 hari. Tapi emang dasar, karena disini, pempek itu masuk kategori extinction, biar udah rada asem, ‘hajar’ aja! Yang terjadi saat itu, kurang lebih seperti ini.
A : “Mbak, kok pempeknya rada asem ya?”
B : “Iya, ya…, udah tambahin kecap aja, biar asemnya gak terasa,”
A : “Oh iya, bener juga ya, mbak.”
Atau di saat yang lain….
T : “Nai, loe kesini Nai, ada bakpia nih.”
Nai : “Mana bakpianya, mbak ?”
T : “Ini, ada disini, ” sambil menunjuk sebuah kotak berisi bakpia. “Tapi loe ambil yang sebelah ujung sini ya, yang sana, udah jamuran. Gak pa-pa kok, tadi kita udah makan satu. ”
Nai : Mengambil bakpia, sambil meneliti dengan seksama, jangan-jangan udah jamuran juga.
Masih soal bakpia.
Nai : “Mbak, ada bakpia nih, mau gak?”
T : “Nai, kayanya bakpianya udah gak bagus deh, nih, liatin, dalemnya udah agak basah kan ? ”
Nai : “Masa sih mbak ? tadi aku makan satu kayanya biasa-biasa aja,”
Masih penasaran jadinya nyari korban lain….
Nai : “Wil, loe mau bakpia ga ? katanya mbak Tati sih, udah gak bagus, soalnya dalemnya mulai basah. Tapi gue udah makan satu, kayanya baik-baik aja….”
Wil : mengambil satu dan mulai menggigitnya, “ kayanya emang udah rada asem sih…” tapi tetap memakannya sampai habis..
Nai : “Masa sih ? Ya udah, lah, gak akan mati juga kan ? ”
Atau…
E : “Nai, loe buruan kemari, si Tony bawa J-co. ”
Nai : “He ? Tony kan, datengnya udah dari 2 hari yang lalu, mbak ? Dapet J-co darimana ? ”
E : “Si Tony tuh, emang dasar merki, punya makanan disimpen sendiri, udah tau juga, orang disini kesusahan. Itu donat, disimpen ama dia di kamar! Gue udah makan satu, agak asem dikit sih, tapi gak pa-pa kok. Tuh, buruan loe ambil satu. ”
Nai : “I…ya, makasih ya mbak. ” Sambil memilih sebuah donat yang kira2 belum asem.
Memang sih, keadaan tidak selalu seperti itu. Tapi kalau sudah ada makanan impor dari Jakarta. Biarpun udah penyek atau hancur, pasti tetap akan diserbu…, ehehehehhe.
Kalau sudah menyangkut pantas atau tidaknya sebuah makanan-makanan serupa untuk disantap, biasanya akan keluar perkataan seperti ini.
“Makan makanan terlalu bersih juga, gak baik untuk perut. Lagian gak akan mati kan? Palingan juga sakit perut bentar. Abis itu juga sembuh….”
Hehehhehe….parah…
Subscribe to:
Posts (Atom)
Masih di hari yang sama, dalam perjalanan pulang menuju camp. Bisa terlihat sekilas messhall (baca: kantin) kami dibawah.

