Friday, August 29, 2008
Handphone…Cellphones
2 Hari yang lalu, handphone saya hilang! Oke, lah, mungkin bukan hilang, tapi tertinggal, dan untungnya teman saya menemukannya, dan memberikannya kepada saya. Kalau tidak, tentunya handphone itu akan beneran hilang!
Kejadiannya ketika makan pagi di messhall (baca: kantin). Saya mempunyai kebiasaan untuk menaruh handphone saya si saku belakang celana. Jadi, ketika duduk—karena tidak nyaman—saya akan mengeluarkannya dari saku, dan meletakkannya di meja. Pagi itu, tidak seperti pagi-pagi lainnya, saya lupa untuk mengambilnya lagi! Ketika saya dan Thely, sudah menuju bukit, tiga langkah menuju security untuk scan ID badge, tiba-tiba saya merasa ada hal yang aneh. Kantong belakang saya terasa kosong. Ternyata benar saja, handphone saya, tidak berada di tempat yang ‘semestinya.’ Akhirnya saya balik lagi ke messhall, untuk mencari. Untungnya, belum sempat masuk ke dalam, teman saya sudah keburu mengambilkannya buat saya.
Saya jadi berpikir. Ketika handphone itu, tidak ada pada saya, saya merasa ada ‘sesuatu’ yang hilang. Sepertinya dengan ketidak-adaan handphone tersebut, saya akan mempunyai kesulitan yang lumayan besar. Padahal, dulu ketika saya belum mempunyai handphone, tidak pernah saya merasakan semua hal-hal itu?
Saya mempunyai handphone baru sekitar tiga tahun belakangan ini. Bahkan belum sampai tiga tahun. Sejak SMA, ketika handphone sudah mulai ‘in,’ tidak pernah terpikirkan untuk membelinya. Bahkan selama masa 4 tahun kuliah pun, saya tetap tidak mempunyai handphone. Sampai-sampai pernah terjadi hal demikian :
Hujan sedang turun dengan derasnya. Saya baru saja sampai di rumah, pulang dari kampus. Telpon berdering, teman kampus saya yang menelpon.
M : Tash, loe ada dimana ?
Tash : (Hallooo…..saya menerima telpon dari rumah kaann??) udah di rumah nih.
M : Udah nyampe rumah loe? Bu Ari bilang, paper kritik sastra kita, mesti diambil sekarang ke jurusan untuk perbaikan, besok soalnya dia udah cuti.
Tash : Haaaaa?!?!?!? Sekarang??? Ya udah, gue balik ke kampus lagi!!
Akhirnya, dari daerah Kebayoran Baru, kembalilah saya menuju Depok, dalam keadaan hujan deras. Tapi bahkan ketika hal itu terjadi pun, tetap saya tidak beranggapan sangat penting bagi saya, untuk mempunyai handphone.
Pada akhirnya saya membali handphone setelah saya bekerja. Dengan hasil jerih payah bekerja 2 bulan, dengan segala uang lembur, akhirnya saya mampu membelinya. Tapi setelah itu, saya bokek, sehingga harus bergantung pada kakak saya selama 1 bulan itu, sampai gajian lagi. Hehehehhehe….
Well, intinya sih, sebenarnya kita membiasakan diri kita sendiri dengan ‘kebutuhan-kebutuhan’ ini. Pada saat kita belum memilikinya dulu, semua berjalan biasa saja. Dunia tetap berputar, kan?
Tuesday, August 26, 2008
In het Nederlands
Gisteren, heeft mijn vriendin aan mij gevraagd, “Kan je nog in het nederlands spreken?”
En ik zei “Ik denk van wel”
En nu? Ik ben niet meer zo zeker.
Het is al lang dat ik Nederlands verlaten. Al te lang.
Mijn vriedin vroeg, “wil je niet een baantje dat een relatie met jouw studie achtergrond heeft?
Ik dacht, nu ik weet niet als het nog belangrijk of niet. Wat belangrijk is dat ik een baan heeft. Het is alsof ik geen principe heeft, is het?
Eigenlijk, mis ik het nederlands. Vroeger, kon ik zo’n lange letter aan mijn vriedin geschreven. Ik kon alles in het nederlands vertellen. Alles.
Nu? Kan ik het nog doen?
Voor zo’n korte stuk, moet ik in een paar minuutje denken.
Is mijn spelling nog correct? Is mijn wordvolgorde nog correct? Is mijn grammatica nog correct?
Ik moet meer oefenen *sigh*
En ik zei “Ik denk van wel”
En nu? Ik ben niet meer zo zeker.
Het is al lang dat ik Nederlands verlaten. Al te lang.
Mijn vriedin vroeg, “wil je niet een baantje dat een relatie met jouw studie achtergrond heeft?
Ik dacht, nu ik weet niet als het nog belangrijk of niet. Wat belangrijk is dat ik een baan heeft. Het is alsof ik geen principe heeft, is het?
Eigenlijk, mis ik het nederlands. Vroeger, kon ik zo’n lange letter aan mijn vriedin geschreven. Ik kon alles in het nederlands vertellen. Alles.
Nu? Kan ik het nog doen?
Voor zo’n korte stuk, moet ik in een paar minuutje denken.
Is mijn spelling nog correct? Is mijn wordvolgorde nog correct? Is mijn grammatica nog correct?
Ik moet meer oefenen *sigh*
Thursday, August 21, 2008
Cuma asem dikit kok!
We’re deseperate!
Betul, kami sangat ‘desperate’ kalau menyangkut soal makanan. Makanan di tempat kami ini, selain tidak ada rasa—sebenarnya lebih sering ke arah tidak enak. Menunya juga membosankan. Entah kenapa, koki disini sepertinya suka sekali dengan bumbu kari India. Ayam dengan bumbu kari, ikan dengan bumbu kari, daging dengan bumbu kari. Katanya nasi goreng, tapi baunya bau kari, huueekkk….!!!
No offense to you all Indian food lovers out there. Tapi kalo seminggu bisa 3 kali, kaya begini, selama 4 bulan berturut-turut, kan, bosan juga?!?!?!?
Akhirnya, kalau ada orang yang datang dari Jakarta, mereka pasti akan dititipin makanan. Rendang, sambal ijo, sambal merah, sambal apalah yang penting sambal dan enak. Kering tempe, kering kentang, kering teri, semua kering-keringan yang bisa bertahan selama beberapa minggu, dll, dst, dsb, dkk. Karena rasa ‘desperate’ ini jugalah, selama itu makanan impor dari luar Papua, biar udah lewat 1 atau 2 hari, walaupun udah asem-asem dikit, selama masih bisa dimakan. Pasti akan habis juga ‘dibabat.’ Hehhehee….
Seperti pernah, ketika ada seseorang yang membawa pempek, menurut dugaan, pempek itu, sepertinya sudah berumur lebih dari 2 hari. Tapi emang dasar, karena disini, pempek itu masuk kategori extinction, biar udah rada asem, ‘hajar’ aja! Yang terjadi saat itu, kurang lebih seperti ini.
A : “Mbak, kok pempeknya rada asem ya?”
B : “Iya, ya…, udah tambahin kecap aja, biar asemnya gak terasa,”
A : “Oh iya, bener juga ya, mbak.”
Atau di saat yang lain….
T : “Nai, loe kesini Nai, ada bakpia nih.”
Nai : “Mana bakpianya, mbak ?”
T : “Ini, ada disini, ” sambil menunjuk sebuah kotak berisi bakpia. “Tapi loe ambil yang sebelah ujung sini ya, yang sana, udah jamuran. Gak pa-pa kok, tadi kita udah makan satu. ”
Nai : Mengambil bakpia, sambil meneliti dengan seksama, jangan-jangan udah jamuran juga.
Masih soal bakpia.
Nai : “Mbak, ada bakpia nih, mau gak?”
T : “Nai, kayanya bakpianya udah gak bagus deh, nih, liatin, dalemnya udah agak basah kan ? ”
Nai : “Masa sih mbak ? tadi aku makan satu kayanya biasa-biasa aja,”
Masih penasaran jadinya nyari korban lain….
Nai : “Wil, loe mau bakpia ga ? katanya mbak Tati sih, udah gak bagus, soalnya dalemnya mulai basah. Tapi gue udah makan satu, kayanya baik-baik aja….”
Wil : mengambil satu dan mulai menggigitnya, “ kayanya emang udah rada asem sih…” tapi tetap memakannya sampai habis..
Nai : “Masa sih ? Ya udah, lah, gak akan mati juga kan ? ”
Atau…
E : “Nai, loe buruan kemari, si Tony bawa J-co. ”
Nai : “He ? Tony kan, datengnya udah dari 2 hari yang lalu, mbak ? Dapet J-co darimana ? ”
E : “Si Tony tuh, emang dasar merki, punya makanan disimpen sendiri, udah tau juga, orang disini kesusahan. Itu donat, disimpen ama dia di kamar! Gue udah makan satu, agak asem dikit sih, tapi gak pa-pa kok. Tuh, buruan loe ambil satu. ”
Nai : “I…ya, makasih ya mbak. ” Sambil memilih sebuah donat yang kira2 belum asem.
Memang sih, keadaan tidak selalu seperti itu. Tapi kalau sudah ada makanan impor dari Jakarta. Biarpun udah penyek atau hancur, pasti tetap akan diserbu…, ehehehehhe.
Kalau sudah menyangkut pantas atau tidaknya sebuah makanan-makanan serupa untuk disantap, biasanya akan keluar perkataan seperti ini.
“Makan makanan terlalu bersih juga, gak baik untuk perut. Lagian gak akan mati kan? Palingan juga sakit perut bentar. Abis itu juga sembuh….”
Hehehhehe….parah…
Betul, kami sangat ‘desperate’ kalau menyangkut soal makanan. Makanan di tempat kami ini, selain tidak ada rasa—sebenarnya lebih sering ke arah tidak enak. Menunya juga membosankan. Entah kenapa, koki disini sepertinya suka sekali dengan bumbu kari India. Ayam dengan bumbu kari, ikan dengan bumbu kari, daging dengan bumbu kari. Katanya nasi goreng, tapi baunya bau kari, huueekkk….!!!
No offense to you all Indian food lovers out there. Tapi kalo seminggu bisa 3 kali, kaya begini, selama 4 bulan berturut-turut, kan, bosan juga?!?!?!?
Akhirnya, kalau ada orang yang datang dari Jakarta, mereka pasti akan dititipin makanan. Rendang, sambal ijo, sambal merah, sambal apalah yang penting sambal dan enak. Kering tempe, kering kentang, kering teri, semua kering-keringan yang bisa bertahan selama beberapa minggu, dll, dst, dsb, dkk. Karena rasa ‘desperate’ ini jugalah, selama itu makanan impor dari luar Papua, biar udah lewat 1 atau 2 hari, walaupun udah asem-asem dikit, selama masih bisa dimakan. Pasti akan habis juga ‘dibabat.’ Hehhehee….
Seperti pernah, ketika ada seseorang yang membawa pempek, menurut dugaan, pempek itu, sepertinya sudah berumur lebih dari 2 hari. Tapi emang dasar, karena disini, pempek itu masuk kategori extinction, biar udah rada asem, ‘hajar’ aja! Yang terjadi saat itu, kurang lebih seperti ini.
A : “Mbak, kok pempeknya rada asem ya?”
B : “Iya, ya…, udah tambahin kecap aja, biar asemnya gak terasa,”
A : “Oh iya, bener juga ya, mbak.”
Atau di saat yang lain….
T : “Nai, loe kesini Nai, ada bakpia nih.”
Nai : “Mana bakpianya, mbak ?”
T : “Ini, ada disini, ” sambil menunjuk sebuah kotak berisi bakpia. “Tapi loe ambil yang sebelah ujung sini ya, yang sana, udah jamuran. Gak pa-pa kok, tadi kita udah makan satu. ”
Nai : Mengambil bakpia, sambil meneliti dengan seksama, jangan-jangan udah jamuran juga.
Masih soal bakpia.
Nai : “Mbak, ada bakpia nih, mau gak?”
T : “Nai, kayanya bakpianya udah gak bagus deh, nih, liatin, dalemnya udah agak basah kan ? ”
Nai : “Masa sih mbak ? tadi aku makan satu kayanya biasa-biasa aja,”
Masih penasaran jadinya nyari korban lain….
Nai : “Wil, loe mau bakpia ga ? katanya mbak Tati sih, udah gak bagus, soalnya dalemnya mulai basah. Tapi gue udah makan satu, kayanya baik-baik aja….”
Wil : mengambil satu dan mulai menggigitnya, “ kayanya emang udah rada asem sih…” tapi tetap memakannya sampai habis..
Nai : “Masa sih ? Ya udah, lah, gak akan mati juga kan ? ”
Atau…
E : “Nai, loe buruan kemari, si Tony bawa J-co. ”
Nai : “He ? Tony kan, datengnya udah dari 2 hari yang lalu, mbak ? Dapet J-co darimana ? ”
E : “Si Tony tuh, emang dasar merki, punya makanan disimpen sendiri, udah tau juga, orang disini kesusahan. Itu donat, disimpen ama dia di kamar! Gue udah makan satu, agak asem dikit sih, tapi gak pa-pa kok. Tuh, buruan loe ambil satu. ”
Nai : “I…ya, makasih ya mbak. ” Sambil memilih sebuah donat yang kira2 belum asem.
Memang sih, keadaan tidak selalu seperti itu. Tapi kalau sudah ada makanan impor dari Jakarta. Biarpun udah penyek atau hancur, pasti tetap akan diserbu…, ehehehehhe.
Kalau sudah menyangkut pantas atau tidaknya sebuah makanan-makanan serupa untuk disantap, biasanya akan keluar perkataan seperti ini.
“Makan makanan terlalu bersih juga, gak baik untuk perut. Lagian gak akan mati kan? Palingan juga sakit perut bentar. Abis itu juga sembuh….”
Hehehhehe….parah…
Tuesday, August 12, 2008
Pancasila
Kalau saja ada yang bertanya, “Siapa yang masih ingat Sila-sila Pancasila?”
Serta merta saya akan menjawab, “Saya…….tidak….” Hehhehehe…..
Iya, saya jujur. Saya sudah lupa Pancasila itu isinya apa saja. Okelah, mungkin sila pertama saya masih ingat. Ehm…, sebenarnya untuk mengingatnyapun, saya harus membayangkan kondisi ketika sedang berupacara di sekolah dulu. Ketika si pembaca pancasila maju kedepan, lalu ia mulai membaca isinya, dan seantero peserta upacara akan mengikuti. Sudah sekitar 7 – 8 tahun, sejak saya mengikuti upacara bendera.
Hal ini saya ingat, karena ketika sedang makan malam dengan dua orang teman saya beberapa hari yang lalu, tiba-tiba mereka bertanya, “Nai, loe masih ingat sila ke-empat ga?” Saya hanya cengengesan, butuh beberapa menit, untuk saya mengingat kembali, dan mengucapkannya dengan benar. Ternyata mereka berdua telah bertanya pada beberapa orang, tentang pancasila ini, dan ternyata kebanyakan justru lupa isi sila ke-4, sementara saya kebalikannya. Akhirnya kami memutuskan bahwa jalan yang terbaik adalah…..CARI DI INTERNET!
Jadi demi menghormati Pancasila, saya berikan lambang Negara kita, beserta Sila-sila Pancasila.
Pancasila :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Serta merta saya akan menjawab, “Saya…….tidak….” Hehhehehe…..
Iya, saya jujur. Saya sudah lupa Pancasila itu isinya apa saja. Okelah, mungkin sila pertama saya masih ingat. Ehm…, sebenarnya untuk mengingatnyapun, saya harus membayangkan kondisi ketika sedang berupacara di sekolah dulu. Ketika si pembaca pancasila maju kedepan, lalu ia mulai membaca isinya, dan seantero peserta upacara akan mengikuti. Sudah sekitar 7 – 8 tahun, sejak saya mengikuti upacara bendera.
Hal ini saya ingat, karena ketika sedang makan malam dengan dua orang teman saya beberapa hari yang lalu, tiba-tiba mereka bertanya, “Nai, loe masih ingat sila ke-empat ga?” Saya hanya cengengesan, butuh beberapa menit, untuk saya mengingat kembali, dan mengucapkannya dengan benar. Ternyata mereka berdua telah bertanya pada beberapa orang, tentang pancasila ini, dan ternyata kebanyakan justru lupa isi sila ke-4, sementara saya kebalikannya. Akhirnya kami memutuskan bahwa jalan yang terbaik adalah…..CARI DI INTERNET!
Jadi demi menghormati Pancasila, saya berikan lambang Negara kita, beserta Sila-sila Pancasila.
Pancasila :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

P.S : kalo diliat-liat, sebenarnya lambang negara kita, keren juga ya….
Saturday, July 26, 2008
The Spider Conspiracy
Ketika kukecil, setiap siang, ibuku akan menyuruh aku dan kakak-kakakku serta adikku untuk tidur siang. Tapi emang dasar anak-anak, disuruh tidur siang susah, tapi begitu malam tiba baru jam 8, mata udah merem-melek, menahan kantuk, gara-gara masih ingin menonton film kesukaan. Akhirnya, karena tidak tidur siang, besoknya jadi mengantuk di sekolah, dan tertidur di belakang kelas, pada saat jam pelajaran agama, sampai akhirnya dibangunkan sama sang guru agama (ehheheheh…..jadi teringat…, abisan sih, gurunya udah tua, en ngajarnya kaya ngedongeng, gimana gak ketiduran???)
Anyways,
Selain selalu menyuruh kami untuk tidur siang, ibuku juga tidak suka melihat anak-anaknya ini, keseringan jajan. (Tapi itu tidak pernah mencegah kami..., sorry ma!).
Akhirnya untuk menyiasati semua ini, aku dan kakak-kakakku—adikku masih terlalu bodoh untuk mengerti—akan bekerja sama, demi mendapatkan kepuasan bersama, ehhehehehe, (senyuman licik muncul di wajah).
Setiap siang, selain menyuruh kami untuk tidur siang, ibuku akan tidur juga. Pada kesempatan emas itulah, kami mulai menjalankan rencana gemilang kami. (lagu film Mission Impossible mulai terdengar sebagai latar belakang)
Jadi, di rumah kami yang dulu itu, untuk mencapai ruang tamu, dari ruang makan, kami harus melewati sebuah gang kecil yang lebarnya sekitar 1 – 1,5m. Tepat di sebelah tembok itu, terletak kamar ibuku. Dan ada sebuah jendela kecil—bisa dibilang seperti lubang udara—yang terletak tinggi diatas hampir mencapai plafon rumah.
Aku pada saat itu—hanya pada saat itu, sekarang sudah tidak lagi—mempunyai sebuah kemampuan yang sangat hebat, dan menguntungkan bagi kami semua. Yang kumaksud dengan kemampuan hebat adalah, aku bisa memanjat—atau merayap—menaiki tembok, untuk mengintip melalui jendela yang tinggi dan terhubung langsung dengan kamar ibuku, untuk melihat keadaan. (Maksudnya untuk melihat apakah ibuku masih tidur atau tidak).

Jika keadaan aman, maka kakakku akan melakukan misi yang kedua, Ia akan merayap keluar—karena jendela yang satu lagi di kamar ibuku, lebarnya hampir setengah badan, dan menghadap ke jalan yang menuju pagar, sehingga siapapun yang keluar masuk, bisa terlihat dari dalam.—untuk jajan ke warung.

Ia akan berlari secepat mungkin ke warung yang hanya berjarak 2 rumah, dari rumah kami, lalu kembali ke rumah, tidak lupa untuk merayap, jika melewati jendela kamar ibuku. Tentunya, ketika ia kembali, kami akan membagi hasil ‘jerih payah’ kami ehhehhehe….

Dan tentunya, Ibuku masih tertidur, ketika kami selesai melakukan semua itu.
MISSION ACCOMPLISH!!! (Lagu Mission Impossible, mulai terdengar kembali sebagai latar belakang.

Jadi teringat masa-masa bodoh sewaktu kecil dulu. Kapan-kapan kalau teringat, aku akan menceritakannya lagi.
Anyways,
Selain selalu menyuruh kami untuk tidur siang, ibuku juga tidak suka melihat anak-anaknya ini, keseringan jajan. (Tapi itu tidak pernah mencegah kami..., sorry ma!).
Akhirnya untuk menyiasati semua ini, aku dan kakak-kakakku—adikku masih terlalu bodoh untuk mengerti—akan bekerja sama, demi mendapatkan kepuasan bersama, ehhehehehe, (senyuman licik muncul di wajah).
Setiap siang, selain menyuruh kami untuk tidur siang, ibuku akan tidur juga. Pada kesempatan emas itulah, kami mulai menjalankan rencana gemilang kami. (lagu film Mission Impossible mulai terdengar sebagai latar belakang)
Jadi, di rumah kami yang dulu itu, untuk mencapai ruang tamu, dari ruang makan, kami harus melewati sebuah gang kecil yang lebarnya sekitar 1 – 1,5m. Tepat di sebelah tembok itu, terletak kamar ibuku. Dan ada sebuah jendela kecil—bisa dibilang seperti lubang udara—yang terletak tinggi diatas hampir mencapai plafon rumah.
Aku pada saat itu—hanya pada saat itu, sekarang sudah tidak lagi—mempunyai sebuah kemampuan yang sangat hebat, dan menguntungkan bagi kami semua. Yang kumaksud dengan kemampuan hebat adalah, aku bisa memanjat—atau merayap—menaiki tembok, untuk mengintip melalui jendela yang tinggi dan terhubung langsung dengan kamar ibuku, untuk melihat keadaan. (Maksudnya untuk melihat apakah ibuku masih tidur atau tidak).

Jika keadaan aman, maka kakakku akan melakukan misi yang kedua, Ia akan merayap keluar—karena jendela yang satu lagi di kamar ibuku, lebarnya hampir setengah badan, dan menghadap ke jalan yang menuju pagar, sehingga siapapun yang keluar masuk, bisa terlihat dari dalam.—untuk jajan ke warung.

Ia akan berlari secepat mungkin ke warung yang hanya berjarak 2 rumah, dari rumah kami, lalu kembali ke rumah, tidak lupa untuk merayap, jika melewati jendela kamar ibuku. Tentunya, ketika ia kembali, kami akan membagi hasil ‘jerih payah’ kami ehhehhehe….

Dan tentunya, Ibuku masih tertidur, ketika kami selesai melakukan semua itu.
MISSION ACCOMPLISH!!! (Lagu Mission Impossible, mulai terdengar kembali sebagai latar belakang.

Jadi teringat masa-masa bodoh sewaktu kecil dulu. Kapan-kapan kalau teringat, aku akan menceritakannya lagi.
Wednesday, July 9, 2008
Ambil apa? Oohhh….
Tiba-tiba aku teringat saat lulus SMA dulu, ketika aku harus mengikuti UMPTN. Ujian yang—ceritanya—sangat penting bagi masa depan…, ehhehhehehe….
Ketika itu aku cukup beruntung untuk lulus UMPTN. Tentunya orang tuaku—sama seperti kebanyakan orang tua lainnya—bangga dengan kelulusan anaknya ini. Jadi ketika bertemu dengan kenalan-kenalannya, mereka akan dengan bangga memberitakan kelulusanku.
And the story goes….
Aku ingat sekali pada teman-teman ibuku--yang kebanyakan adalah tante-tante--ketika diberitahu aku lulus UMPTN, biasanya mereka akan bertanya langsung padaku, “Katanya mama, kamu lulus UMPTN, sayang?”
==intermezzo==
Jangan pikir si tante ini memanggilku sayang, karena ia mengenalku dengan dekat. Justru kebalikannya, aku berani bertaruh bahwa ia tidak ingat namaku, sehingga, lebih baik baginya untuk memanggil ‘sayang’. Dengan begitu terkesan bahwa ia sudah akrab. Padahal mungkin ada banyak anak-anak lainnya yang dipanggil dengan sapaan yang sama. Aku menyebut tante-tante sejenis, Tante-tante SKSD alias Tante-tante Sok Kenal Sok Deket.
===========
“Iya, tante”
“Oh, ya?” dengan nada antusias, “diterima dimana?”
“Di UI, tante”
“Wah, bagus ya…, ngambil apa?” nada makin tinggi karena antusias
“Ngambil sastra, tante”
“Ooh…,” nada bicara mulai merendah, “sastra apa? Inggris ya?”
“Bukan tante, sastra belanda”
“Ooh…,” nada bicara semakin merendah, “kenapa enggak ambil ekonomi atau hukum aja?”
BRAAAKKKK….!!! Tante itu terjatuh di lantai karena kupukul. (Jangan dipercaya, kalimat ini murni hasil imajinasiku saja, berharap saat itu, inilah yang aku lakukan)
“enggak suka, tante” kataku sambil tersenyum, tapi di dalam hati ingin me-lakban mulutnya.
“ooh…, iya sih, kalau emang enggak suka, gak bisa dipaksa ya…,” sambil tersenyum kasihan melihatku, seakan-akan aku sudah memilih pilihan yang salah, dan sekarang aku sedang berjalan menuju jurang kehancuran….
Saat itu sering sekali aku mengalami hal sejenis. Padahal orang tuaku saja tidak masalah kemana aku akan melanjutkan studiku. Sial…, ingin rasanya aku menjahit mulut mereka.
Tapi terlepas dari apapun pendapat mereka, kuliah di sastra belanda UI, bisa dibilang adalah 4 tahun terbaik yang pernah aku alami....
Iya, gak, P? Ehehhehe….
Ketika itu aku cukup beruntung untuk lulus UMPTN. Tentunya orang tuaku—sama seperti kebanyakan orang tua lainnya—bangga dengan kelulusan anaknya ini. Jadi ketika bertemu dengan kenalan-kenalannya, mereka akan dengan bangga memberitakan kelulusanku.
And the story goes….
Aku ingat sekali pada teman-teman ibuku--yang kebanyakan adalah tante-tante--ketika diberitahu aku lulus UMPTN, biasanya mereka akan bertanya langsung padaku, “Katanya mama, kamu lulus UMPTN, sayang?”
==intermezzo==
Jangan pikir si tante ini memanggilku sayang, karena ia mengenalku dengan dekat. Justru kebalikannya, aku berani bertaruh bahwa ia tidak ingat namaku, sehingga, lebih baik baginya untuk memanggil ‘sayang’. Dengan begitu terkesan bahwa ia sudah akrab. Padahal mungkin ada banyak anak-anak lainnya yang dipanggil dengan sapaan yang sama. Aku menyebut tante-tante sejenis, Tante-tante SKSD alias Tante-tante Sok Kenal Sok Deket.
===========
“Iya, tante”
“Oh, ya?” dengan nada antusias, “diterima dimana?”
“Di UI, tante”
“Wah, bagus ya…, ngambil apa?” nada makin tinggi karena antusias
“Ngambil sastra, tante”
“Ooh…,” nada bicara mulai merendah, “sastra apa? Inggris ya?”
“Bukan tante, sastra belanda”
“Ooh…,” nada bicara semakin merendah, “kenapa enggak ambil ekonomi atau hukum aja?”
BRAAAKKKK….!!! Tante itu terjatuh di lantai karena kupukul. (Jangan dipercaya, kalimat ini murni hasil imajinasiku saja, berharap saat itu, inilah yang aku lakukan)
“enggak suka, tante” kataku sambil tersenyum, tapi di dalam hati ingin me-lakban mulutnya.
“ooh…, iya sih, kalau emang enggak suka, gak bisa dipaksa ya…,” sambil tersenyum kasihan melihatku, seakan-akan aku sudah memilih pilihan yang salah, dan sekarang aku sedang berjalan menuju jurang kehancuran….
Saat itu sering sekali aku mengalami hal sejenis. Padahal orang tuaku saja tidak masalah kemana aku akan melanjutkan studiku. Sial…, ingin rasanya aku menjahit mulut mereka.
Tapi terlepas dari apapun pendapat mereka, kuliah di sastra belanda UI, bisa dibilang adalah 4 tahun terbaik yang pernah aku alami....
Iya, gak, P? Ehehhehe….
Saturday, July 5, 2008
Perjalanan Pagi Hari yang Menyenangkan di Hari Minggu
Hari ini, hari minggu….
Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti yang sudah pernah aku ceritakan (eh, sudah pernah belum ya?), disini, di tempat ini, tidak ada bedanya antara hari sabtu, minggu, hari libur, dan hari-hari biasa lainnya. Kami bekerja. Bisa dibilang, tiap hari kami bekerja.
Jadi, aku sudah siap untuk berangkat. Aku keluar dari camp-ku, dan berjalan pelan-pelan, menuju bukit yang harus ‘kudaki’ tiap harinya untuk sampai di kantor. Aku berjalan sendirian, sambil mendengarkan lagu dari mp3 player kesayanganku. Ketika melewati pos security, aku tersenyum kepada sang penjaga, dan melanjutkan perjalananku.
Bukit yang kudaki sudah terlihat di depan. Dengan sepatu boots-ku yang berat, aku perlahan-lahan berjalan mendaki bukit itu. Tidak ada apapun yang terlihat di depanku, hanya bukit menjulang, yang sepertinya tidak ada ujungnya.
Pernahkan kalian mendengar sebuah perkataan, “in the end of a rainbow, there’s a bucket of golden coins.” Tapi mungkin juga kalimat ini ada di sebuah film yang pernah aku tonton dulu, aku tidak ingat. Tapi itulah yang kurasakan. I mean, sangat menyenangkan, ketika anda berjalan mendaki bukit, dan ketika hampir sampai di ujung, apa yang ada di balik bukit itu, mulai terlihat perlahan-lahan.

Ketika kita sampai di atas bukit, Tank-1 dan Tank-2 yang megah mulai terlihat. Train-1 terlihat sekilas di sebelah kiri. Tapi ketika kita berjalan menuruni bukit itu, semuanya hilang kembali. Hanya jalan setapak yang panjang yang nampak di depanku. Aku merasa seperti Dorothy, dari “Wizard of Oz” yang harus berjalan mengikuti "The Yellow Brick Road". Semua pemandangan yang tadi nampak, seperti mengintip dari balik semak-semak dan pepohonan. Aku terus berjalan mengikuti jalan setapak itu.

Aku hampir tiba, tempat tujuanku sudah semakin dekat. Semak belukar dan pepohonan yang lebat sudah kulewati, yang ada sekarang, hanyalah tanah yang luas dan lapang, dan hutan lebat yang terlihat di ujung sana. Ketika aku melihat ke sebelah kiriku, aku melihat bukit dan hutan, yang sangat ingin aku kunjungi suatu saat nanti.

Dan, ketika aku melihat ke sebelah kanan, aku melihat segala hasil kerja dari proyek yang sedang kami kerjakan ini. Semuanya terlihat begitu indah. Karena ketika aku datang dulu, yang terlihat hanyalah tiang-tiang pancang dimana-mana. Betapa cepat waktu berlalu.

Akhirnya aku tiba. Aku kembali ke kantorku untuk bekerja. Memang tidak menyenangkan bekerja di hari minggu, tapi hari ini aku tidak memikirkan itu. Aku hanya memikirkan betapa aku sangat menikmati perjalananku. Perjalanan pagi hari yang sangat menyenangkan di hari minggu.

ps: maaf kalau foto pertama agak kabur diujungnya, itu jariku...ehehehehe....
Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti yang sudah pernah aku ceritakan (eh, sudah pernah belum ya?), disini, di tempat ini, tidak ada bedanya antara hari sabtu, minggu, hari libur, dan hari-hari biasa lainnya. Kami bekerja. Bisa dibilang, tiap hari kami bekerja.
Jadi, aku sudah siap untuk berangkat. Aku keluar dari camp-ku, dan berjalan pelan-pelan, menuju bukit yang harus ‘kudaki’ tiap harinya untuk sampai di kantor. Aku berjalan sendirian, sambil mendengarkan lagu dari mp3 player kesayanganku. Ketika melewati pos security, aku tersenyum kepada sang penjaga, dan melanjutkan perjalananku.
Bukit yang kudaki sudah terlihat di depan. Dengan sepatu boots-ku yang berat, aku perlahan-lahan berjalan mendaki bukit itu. Tidak ada apapun yang terlihat di depanku, hanya bukit menjulang, yang sepertinya tidak ada ujungnya.
Pernahkan kalian mendengar sebuah perkataan, “in the end of a rainbow, there’s a bucket of golden coins.” Tapi mungkin juga kalimat ini ada di sebuah film yang pernah aku tonton dulu, aku tidak ingat. Tapi itulah yang kurasakan. I mean, sangat menyenangkan, ketika anda berjalan mendaki bukit, dan ketika hampir sampai di ujung, apa yang ada di balik bukit itu, mulai terlihat perlahan-lahan.
Ketika kita sampai di atas bukit, Tank-1 dan Tank-2 yang megah mulai terlihat. Train-1 terlihat sekilas di sebelah kiri. Tapi ketika kita berjalan menuruni bukit itu, semuanya hilang kembali. Hanya jalan setapak yang panjang yang nampak di depanku. Aku merasa seperti Dorothy, dari “Wizard of Oz” yang harus berjalan mengikuti "The Yellow Brick Road". Semua pemandangan yang tadi nampak, seperti mengintip dari balik semak-semak dan pepohonan. Aku terus berjalan mengikuti jalan setapak itu.
Aku hampir tiba, tempat tujuanku sudah semakin dekat. Semak belukar dan pepohonan yang lebat sudah kulewati, yang ada sekarang, hanyalah tanah yang luas dan lapang, dan hutan lebat yang terlihat di ujung sana. Ketika aku melihat ke sebelah kiriku, aku melihat bukit dan hutan, yang sangat ingin aku kunjungi suatu saat nanti.
Dan, ketika aku melihat ke sebelah kanan, aku melihat segala hasil kerja dari proyek yang sedang kami kerjakan ini. Semuanya terlihat begitu indah. Karena ketika aku datang dulu, yang terlihat hanyalah tiang-tiang pancang dimana-mana. Betapa cepat waktu berlalu.
Akhirnya aku tiba. Aku kembali ke kantorku untuk bekerja. Memang tidak menyenangkan bekerja di hari minggu, tapi hari ini aku tidak memikirkan itu. Aku hanya memikirkan betapa aku sangat menikmati perjalananku. Perjalanan pagi hari yang sangat menyenangkan di hari minggu.
ps: maaf kalau foto pertama agak kabur diujungnya, itu jariku...ehehehehe....
Subscribe to:
Posts (Atom)
