Tuesday, February 1, 2011

Donor Darah : Parasit

Sejak berhasil mendonorkan darah untuk pertama kalinya, aku sepertinya jadi keranjingan. Ketika gedung kantorku yang lama, mengadakan acara donor darah lagi, aku bersemangat untuk ikut serta. Tapi dengan membawa seorang ‘korban’ tentunya. Sialnya, yang tadinya aku ajak hanya sebagai pelengkap penderita, ternyata menjadi penderita yang sesungguhnya.

Aku mengajak salah seorang teman baikku—laki-laki—untuk ikut donor darah bersama. Ia ingin ikut, karena ia juga belum pernah mendonorkan darah sebelumnya. Jadi lebih ke arah ingin tahu. Tapi ia juga sebenarnya tidak tahan dengan darah. Sewaktu jarinya akan ditusuk untuk mengetes golongan darah, mimik wajahnya mulai berubah. Aku hanya berdiri sambil menahan tawa di sampingnya. Kok bisa, seorang laki-laki takut darah seperti itu, hehehehehe. Si petugas PMI bertanya padanya, “tadi pagi udah sarapan belum?”

“Belum, bu…, emangnya kenapa?”

“Yaah…, kalo belum sarapan, gak bisa donor dooongg….”

Wajahnya langsung terlihat sedikit bercahaya, senyum mulai mengembang. Seorang panitia yang kebetulan berdiri di sampingnya juga, langsung bertanya, pada si petugas PMI. “Tapi kalo kita kasih sarapan, bisa, bu?”

“Ooohh…, bisa kok….” Jawab si ibu.

“Panitiaaaaaa! Minta makan dong! 1 kotak!” Si panitia itu langsung berteriak, tidak ingin kehilangan satu donor sepertinya. Senyum yang mulai mengembang di wajah temanku, perlahan-lahan mengempis…,huehueuhehe.

Akhirnya, setelah diberikan 1 kotak makan, kami duduk menunggu giliran kami dipanggil untuk mendonorkan darah kami.

“Udah, buruan tuh, makan.” Aku berkata kepadanya, sambil mengintip ke dalam kotak kue.

“Iye, ini aja cukup.” Katanya, menyeruput 1 kotak susu coklat.

“Kaga cukup kali, kuenya dimakan juga!”

“Udah ini aja cukup.”

“Ya udah, tapi diabisin tuh, susunya”

“Kaga udah cukup, gue.” Katanya hanya meminum setengah kotak.

“Oooohhhh…, gue tau sekarang, loe takut muntah ya, kalo kebanyakan?” Akhirnya bisa membaca makna dibalik tindakannya. Ia hanya tersenyum. Ternyata tebakanku tepat sasaran.

Tiba-tiba namaku dipanggil. Ia belum. Sebelum aku berdiri, ia berbisik, “ntar loe tungguin ampe gue selesai yak!”

Tidak ada sepuluh menit setelah aku dipanggil, gilirannya untuk maju. Ia berbaring di tempat donor tepat di sebelahku, tidak berani melihat ke arah tangan yang akan ditusukan jarum. Aku berkata, “udah ditusuk belum?”

“Belum tau gue!”

“Kok belum tau?”

“Gue gak berani liat….”

“Lah, kan terasa sakit?”

“Belum berasa apa-apa.” Katanya, tetap tidak mau melihat ke arah tangannya yang akan ditusuk jarum.

Ketika kami selesai dan mengambil kotak makan, kami turun ke lantai kami kembali. Sesampainya disana, temanku menyadari ada yang aneh dengan tangannya.

“Nay, kok tangan gue bengkak ya?” Sambil menunjukkan tangannya. Ternyata betul, ada benjolan sebesar bola ping-pong tepat di tempat jarum tadi ditusukkan.

“Kok bisa begitu sih? Udah, palingan bentar lagi juga turun bengkaknya.” Kataku mencoba bersikap santai.

“Kalo gue lepas aja plesternya gimana?”

“Jangaaaaan! Udah biarin aja dulu…, entaran aja baru loe lepas.” Panik, karena membayangkan jika ia melepas plester itu, darahnya akan keluar seperti air mancur. Tapi ternyata ketika ia melepas plesternya, tidak ada apapun yang terjadi. Fwweeuuhh….

Seharian itu, setiap kali aku melewati mejanya, aku terus berharap bola ping-pong di lengannya akan mengempes. Rupanya si temanku ini, juga tidak mau membiarkanku begitu saja. Setiap kali aku lewat, ia akan dengan sengaja menunjukkan si bola ping-pong itu. Sampai akhirnya aku harus merelakan minuman kotak yang sudah kusimpan di kulkas untuk kuminum nanti, untuk mengompres tangannya, dan untuk menutup mulutnya.

Kukira masalah akan berakhir disitu, ternyata aku salah. Ketika kami masuk kantor lagi pada hari senin, ternyata si bola sudah menghilang, tapi sekarang digantikan dengan memar yang terlihat sangat parah. Berwarna biru, keunguan, dengan sedikit garis-garis hijau, terlihat cukup besar di lengannya.

“Kok bisa jadi gitu sih, lengan loe?”

“Gak tau, waktu hari sabtu tiba-tiba mulai begini!”

“Masa sih, lengan gue buktinya gak kenapa-napa? Yang nusuk jarumnya gak ahli kali?”

“Gak ngerti juga gue…, tanggung jawab loe!”

“Tanggung jawab??? Loe pikir loe hamil??”

Akhirnya begitulah, si temanku ini tidak ingin melepaskan ku dengan mudah dari ‘tanggung jawab’ karena sudah mengajaknya untuk donor darah. Setiap kali aku melewati mejanya, atau sedang berbicara dengannya, ia akan mengangkat lengan bajunya, menunjukkan memar yang mengerikan itu, lalu mengelus-elusnya sambil memasang muka loe-yang-ngajak-gue-donor-darah-sekarang-do-something-about-this-memar. Sial.

Mulai dari saat itu, jika aku dibuatkan bekal makan siang, makan pagi, atau snack oleh ibuku, ibuku juga akan membuatkan satu untuknya, sepertinya tidak tega, karena si anaknya ini sudah ‘melukai’ orang lain. Temanku tentunya dengan senang hati menerima, lumayan kan, tidak harus mengeluarkan uang untuk makan. Tiap hari dia akan bertanya, “Nay, hari ini mama bekelin apa?”

“Dia nyokap gueeeee, bukan nyokap looeeee!”

“Kan, gue udah diangkat anaaakk….” Sambil mengangkat lengan bajunya dan menunjukkan bekas memar yang tak kunjung hilang. Arrggghhhh.

Kesal karena ia sepertinya sudah dengan senang hati menjadi parasit, aku meng-email salah satu teman baik kami yang lain, ingin bercerita sekaligus meledek si teman memarku ini. Jadi cowo kok, memar dikit doang, rewel amat. Maksud hati ingin meledek, apa daya si teman yang ku-email malah membalas dengan bercerita kalau ada seorang temannya yang lain meninggal karena masalah transfusi darah. Aaarrrggghhh. 2-0 untuk si teman memar.

Memar itu memakan waktu cukup lama untuk hilang. Selama memar itu masih ada, selama itu juga dia dengan senang hati membuatku merasa bersalah. Sepertinya si temanku ini memang agak sensitif kulitnya. “Kulit gue kan, kaya kulit baby, Nay….” Katanya sambil tersenyum puas.

“Apaa? Kulit babi??” pura-pura tidak mendengar kata-katanya.

Aku tidak kapok, lain kali akan kuajak lagi dia untuk donor darah.

Friday, January 28, 2011

Ooh..Salah Tulis Ya?

Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke In-house clinic utk konsultasi.
Ketika masuk ruangan dokter aku menemukan seorang dokter paling gaul yang pernah aku temui di sepanjang hidupku. Aku bisa mengatakan sepanjang hidupku, karena sampai detik ini, jumlah kunjungan ku ke dokter mungkin bisa dihitung sebelah tangan.
Si dokter adalah--wanita-yang berpakaian super modis-pake eye line kaya mata kucing-membuat aku berpikir kira-kira dia dandan berapa jam sehari--mulai berbicara sambil ngeliat data MCU ku.

D : (menggumam)....Natasha ya...(sambil liat biodata ku, yang isinya nama lalu dibawahnya ttl, lalu umur ku) jari si dokter menyusuri biodata satu-satu..ketika melewati umur ku....
D : Kamu mesti cepet-cepet nikah nih...
penasaran kenapa si dokter tiba2 ngomong gitu, jadi ikutan ngeliat biodata...
N : HAAH? Umur saya bukan 31 dook! saya masih 27!! Itu tahun kelahiran saya 83...
D : Ooohh...salah tulis yaa? saya ganti deh..

Aku tidak terimaa! Pencemaran nama baaiikkk!!!

Tuesday, January 11, 2011

Sinetron is alive and well

Aku tidak pernah menyukai sinetron. (Jadi teringat artikel di jaman kuliah yang pernah kubuat mengenai sinetron).

Aku tidak pernah bisa mengerti jalan ceritanya.

Sewaktu sedang pindah-pindah
channel, terdengar sepotong adegan dari channel yang memutar sinetron, "Pak, ini hasil dari jualan kue saya, untuk bayar transplant mata bapak."
Hhmmm..., membayangkan berapa ratus ribu kue yang udah dia jual, utk operasi transplant mata.

Terlepas dari jalan ceritanya yang seperti..., itu.... Banyak sekali orang yang masih menontonnya. Pada suatu malam, ketika sedang
asik makan di sebuah warung dengan temanku. Seorang wanita setengah baya datang dan duduk di meja sebelah kami. Tiba-tiba ia memekik, aku terkejut, apa yang terjadi? Ketika aku menengok, mata si wanita sedang fokus pada sebuah titik. TV di pojok ruangan, sedang memutar--you've guessed it--sinetron.

Rupanya ia berteriak karena si karakter di sinetron itu sedang berakting sembunyi. Si karakter sedang mencari-cari tempat utk bersembunyi. Dalam pencariannya itu, ia tidak sengaja menyenggol guci
segede bagong, dan hampir jatuh. Ketika itulah si wanita setengah baya di sebelah mejaku memekik. Tiba-tiba teman si wanita datang, terburu-buru duduk di sebelahnya, "gimana? gimana? udah mulai belum?" Si teman ternyata mempunyai antusiasme yang sama, hehehe. Sambil sibuk mengunyah pempek, tatapan si wanita tidak lepas dari layar televisi. Kadang ia bahkan akan berteriak. Aku serius mengatakan kata teriak. Ia berteriak mengomentari si karakter sinetron seperti, "ayo cepetan..., cepetan!" atau, "ayo, sembunyiii!" lain kali, "awas..., awas..., entar ketahuan."

Aku dan temanku sibuk menahan senyum, melihat si wanita yang sangat antusias ini.

Cerita lain adalah, ibuku yang baru saja pulang dari Sorong mengatakan, "
Nay, nyalain tv dong, mama sekarang punya tontonan baru." Mengingat di Sorong mereka tidak memasang tv satelit, atau tv kabel, aku penasaran tontonan baru apa yang ia maksud?
"Mama ada tontonan baru, itu salah satu sinetron yang di tv"

Nooooooooo...., not my mom too!

Beginning and End of 2010

Jika tahun 2010 aku mulai dengan the most amazing trip. Aku bisa mengatakan bahwa aku mengakhiri tahun 2010, dengan kebodohan. Kebodohan yang tidak bisa aku lupakan that is.

Hahahahahah....

Wednesday, December 29, 2010

Owe it to Self

Ternyata tanpa kusadari, sudah 2 tahun aku menulis di blog ini. Ketika melihat history-nya baru aku tersadar, sudah sejak tahun 2008 sejak aku pertama kali menciptakan blog ini.

Aku menyadari bahwa ternyata aku suka menulis. Terutama ketika sudah lulus kuliah, sepertinya ada rasa berhutang pada diri sendiri karena sekian lama tidak menulis lagi.
Pada masa kuliah, salah satu mata kuliah yang paling aku gemari adalah, Penulisan Populer. Sang Dosen, Pak Ismail (God bless his soul) sudah tiada. Tapi masa kuliah bersamanya tidak bisa kulupakan. Ia selalu datang ke kelas sambil berteriak "merdeka" dan mengangkat kepal tangan keatas. Tugas tulisan mingguan yang ia berikan, walaupun berat, tapi selalu dengan senang hati aku kerjakan. Rasanya begitu menantang untuk menciptakan sebuah kisah atau sebuah artikel, ketika aku duduk semalaman memikirkan topik apa yang bisa dibahas. Ketika harus menciptakan sebuah kisah dari sebuah topik yang membosankan, dan bagaimana cara mengemasnya dalam sebuah tulisan yang menarik.

Lalu ketika kuliah berikutnya, ia akan mengupas hasil tulisan kami. Bagaimana ia akan berkata bahwa kisah roman yang kami ciptakan terlalu picisan. Atau artikel yang kami tulis kurang informatif, atau ketika kisah yang kami ceritakan sudah bagus, tapi terlalu banyak kesalahan teknis penulisan. Sedikit memalukan memang, ketika ia membahasnya dengan gamblang di hadapan semua mahasiswa lain, tapi sangat membanggakan ketika ia mencantumkan tiga titik pada hasil tulisan kita dan menulis kata-kata "kembali ke saya." Artinya ia merasa bahwa tulisan itu cukup baik untuk ia simpan sebagai koleksi pribadinya, dan bahkan bisa ia sertakan pada bukunya yang berikut.

Ia tidak pernah menerima banyak mahasiswa dalam kelasnya, dan aku sangat beruntung bisa mengambil dua mata kuliah darinya. Kurasa kuliah darinya adalah salah satu yang sampai sekarang masih kuingat. Aku sangat yakin bahwa karena mengikuti kuliah-nya itulah, yang membuatku masih ingin menulis bahkan sampai saat ini.

Tulisan-tulisan di blog ini memang hanya kisah biasa, tidak fantastis, dan lebih ke arah pemikiran abstrak saja. Apa yang tiba-tiba terlintas di pikiranku, dan mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan. Aku bahkan tidak yakin ada yang membaca blog ini atau tidak, heheheh. Tapi aku rasa aku sudah cukup puas dengan mengetahui bahwa aku tidak berhenti menulis, bahwa aku tidak meninggalkan menulis.

Aku rasa aku berhutang pada begitu banyak orang yang telah mengajarku, untuk terus menulis. Tapi yang terpenting aku rasa aku akan berhutang pada diriku sendiri, jika aku berhenti menulis.

Tergelitik

Membaca blog seorang teman baikku, aku merasa sangat tertarik, penasaran, bahkan setuju dengan kutipan di blognya itu.

silahkan lihat sendiri di link ini, apakah anda merasakan hal yang sama dengan saya?

Jennniiffeerrr

Tiba-tiba aku teringat pada seorang temanku yang mempunyai sebuah kebiasaan untuk mengganti nama orang.

Ketika masih bekerja di Papua dahulu, ada salah seorang driver kami, seorang lokal Papua, yang bernama Jessica. Jessica adalah seorang laki-laki Papua, berbadan tinggi, kulit gelap, dan rambut agak panjang keriting. Ya, dia seorang laki-laki.
Pertama-tama aku kira, itu bukan nama sebenarnya, sampai aku sempat bertanya-tanya keliling juga pada teman-temannya. Ternyata itu memang serius nama aslinya.

Kembali ke temanku.

Setiap hari Jessi (itu nama panggilannya) akan mengantarkan kotak makan siang kami ke kantor. Temanku ini, yang sering susah menemukan kotak untuk departemennya, akan selalu berteriak, "Jennifeeerrr..., kotak punya gue manaaa?" Sepertinya nama Jessica belum cukup, temanku masih harus menggantinya dengan Jenifer.

Kali lain, ketika aku sedang berada di dekat mejanya..., ia sedang memanggil salah seorang Office Boy kami..., "Maaatthheeewww!"
Tidak usah ditanya, nama asli si OB adalah Matius.

Lucunya terlepas dari itu bukan nama asli mereka yang dipanggil, entah kenapa mereka selalu menengok jika temanku ini memanggil. Haha.