Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke In-house clinic utk konsultasi.
Ketika masuk ruangan dokter aku menemukan seorang dokter paling gaul yang pernah aku temui di sepanjang hidupku. Aku bisa mengatakan sepanjang hidupku, karena sampai detik ini, jumlah kunjungan ku ke dokter mungkin bisa dihitung sebelah tangan.
Si dokter adalah--wanita-yang berpakaian super modis-pake eye line kaya mata kucing-membuat aku berpikir kira-kira dia dandan berapa jam sehari--mulai berbicara sambil ngeliat data MCU ku.
D : (menggumam)....Natasha ya...(sambil liat biodata ku, yang isinya nama lalu dibawahnya ttl, lalu umur ku) jari si dokter menyusuri biodata satu-satu..ketika melewati umur ku....
D : Kamu mesti cepet-cepet nikah nih...
penasaran kenapa si dokter tiba2 ngomong gitu, jadi ikutan ngeliat biodata...
N : HAAH? Umur saya bukan 31 dook! saya masih 27!! Itu tahun kelahiran saya 83...
D : Ooohh...salah tulis yaa? saya ganti deh..
Aku tidak terimaa! Pencemaran nama baaiikkk!!!
Friday, January 28, 2011
Tuesday, January 11, 2011
Sinetron is alive and well
Aku tidak pernah menyukai sinetron. (Jadi teringat artikel di jaman kuliah yang pernah kubuat mengenai sinetron).
Aku tidak pernah bisa mengerti jalan ceritanya.
Sewaktu sedang pindah-pindah channel, terdengar sepotong adegan dari channel yang memutar sinetron, "Pak, ini hasil dari jualan kue saya, untuk bayar transplant mata bapak."
Hhmmm..., membayangkan berapa ratus ribu kue yang udah dia jual, utk operasi transplant mata.
Terlepas dari jalan ceritanya yang seperti..., itu.... Banyak sekali orang yang masih menontonnya. Pada suatu malam, ketika sedang asik makan di sebuah warung dengan temanku. Seorang wanita setengah baya datang dan duduk di meja sebelah kami. Tiba-tiba ia memekik, aku terkejut, apa yang terjadi? Ketika aku menengok, mata si wanita sedang fokus pada sebuah titik. TV di pojok ruangan, sedang memutar--you've guessed it--sinetron.
Rupanya ia berteriak karena si karakter di sinetron itu sedang berakting sembunyi. Si karakter sedang mencari-cari tempat utk bersembunyi. Dalam pencariannya itu, ia tidak sengaja menyenggol guci segede bagong, dan hampir jatuh. Ketika itulah si wanita setengah baya di sebelah mejaku memekik. Tiba-tiba teman si wanita datang, terburu-buru duduk di sebelahnya, "gimana? gimana? udah mulai belum?" Si teman ternyata mempunyai antusiasme yang sama, hehehe. Sambil sibuk mengunyah pempek, tatapan si wanita tidak lepas dari layar televisi. Kadang ia bahkan akan berteriak. Aku serius mengatakan kata teriak. Ia berteriak mengomentari si karakter sinetron seperti, "ayo cepetan..., cepetan!" atau, "ayo, sembunyiii!" lain kali, "awas..., awas..., entar ketahuan."
Aku dan temanku sibuk menahan senyum, melihat si wanita yang sangat antusias ini.
Cerita lain adalah, ibuku yang baru saja pulang dari Sorong mengatakan, "Nay, nyalain tv dong, mama sekarang punya tontonan baru." Mengingat di Sorong mereka tidak memasang tv satelit, atau tv kabel, aku penasaran tontonan baru apa yang ia maksud?
"Mama ada tontonan baru, itu salah satu sinetron yang di tv"
Nooooooooo...., not my mom too!
Aku tidak pernah bisa mengerti jalan ceritanya.
Sewaktu sedang pindah-pindah channel, terdengar sepotong adegan dari channel yang memutar sinetron, "Pak, ini hasil dari jualan kue saya, untuk bayar transplant mata bapak."
Hhmmm..., membayangkan berapa ratus ribu kue yang udah dia jual, utk operasi transplant mata.
Terlepas dari jalan ceritanya yang seperti..., itu.... Banyak sekali orang yang masih menontonnya. Pada suatu malam, ketika sedang asik makan di sebuah warung dengan temanku. Seorang wanita setengah baya datang dan duduk di meja sebelah kami. Tiba-tiba ia memekik, aku terkejut, apa yang terjadi? Ketika aku menengok, mata si wanita sedang fokus pada sebuah titik. TV di pojok ruangan, sedang memutar--you've guessed it--sinetron.
Rupanya ia berteriak karena si karakter di sinetron itu sedang berakting sembunyi. Si karakter sedang mencari-cari tempat utk bersembunyi. Dalam pencariannya itu, ia tidak sengaja menyenggol guci segede bagong, dan hampir jatuh. Ketika itulah si wanita setengah baya di sebelah mejaku memekik. Tiba-tiba teman si wanita datang, terburu-buru duduk di sebelahnya, "gimana? gimana? udah mulai belum?" Si teman ternyata mempunyai antusiasme yang sama, hehehe. Sambil sibuk mengunyah pempek, tatapan si wanita tidak lepas dari layar televisi. Kadang ia bahkan akan berteriak. Aku serius mengatakan kata teriak. Ia berteriak mengomentari si karakter sinetron seperti, "ayo cepetan..., cepetan!" atau, "ayo, sembunyiii!" lain kali, "awas..., awas..., entar ketahuan."
Aku dan temanku sibuk menahan senyum, melihat si wanita yang sangat antusias ini.
Cerita lain adalah, ibuku yang baru saja pulang dari Sorong mengatakan, "Nay, nyalain tv dong, mama sekarang punya tontonan baru." Mengingat di Sorong mereka tidak memasang tv satelit, atau tv kabel, aku penasaran tontonan baru apa yang ia maksud?
"Mama ada tontonan baru, itu salah satu sinetron yang di tv"
Nooooooooo...., not my mom too!
Beginning and End of 2010
Jika tahun 2010 aku mulai dengan the most amazing trip. Aku bisa mengatakan bahwa aku mengakhiri tahun 2010, dengan kebodohan. Kebodohan yang tidak bisa aku lupakan that is.
Hahahahahah....
Hahahahahah....
Wednesday, December 29, 2010
Owe it to Self
Ternyata tanpa kusadari, sudah 2 tahun aku menulis di blog ini. Ketika melihat history-nya baru aku tersadar, sudah sejak tahun 2008 sejak aku pertama kali menciptakan blog ini.
Aku menyadari bahwa ternyata aku suka menulis. Terutama ketika sudah lulus kuliah, sepertinya ada rasa berhutang pada diri sendiri karena sekian lama tidak menulis lagi.
Pada masa kuliah, salah satu mata kuliah yang paling aku gemari adalah, Penulisan Populer. Sang Dosen, Pak Ismail (God bless his soul) sudah tiada. Tapi masa kuliah bersamanya tidak bisa kulupakan. Ia selalu datang ke kelas sambil berteriak "merdeka" dan mengangkat kepal tangan keatas. Tugas tulisan mingguan yang ia berikan, walaupun berat, tapi selalu dengan senang hati aku kerjakan. Rasanya begitu menantang untuk menciptakan sebuah kisah atau sebuah artikel, ketika aku duduk semalaman memikirkan topik apa yang bisa dibahas. Ketika harus menciptakan sebuah kisah dari sebuah topik yang membosankan, dan bagaimana cara mengemasnya dalam sebuah tulisan yang menarik.
Lalu ketika kuliah berikutnya, ia akan mengupas hasil tulisan kami. Bagaimana ia akan berkata bahwa kisah roman yang kami ciptakan terlalu picisan. Atau artikel yang kami tulis kurang informatif, atau ketika kisah yang kami ceritakan sudah bagus, tapi terlalu banyak kesalahan teknis penulisan. Sedikit memalukan memang, ketika ia membahasnya dengan gamblang di hadapan semua mahasiswa lain, tapi sangat membanggakan ketika ia mencantumkan tiga titik pada hasil tulisan kita dan menulis kata-kata "kembali ke saya." Artinya ia merasa bahwa tulisan itu cukup baik untuk ia simpan sebagai koleksi pribadinya, dan bahkan bisa ia sertakan pada bukunya yang berikut.
Ia tidak pernah menerima banyak mahasiswa dalam kelasnya, dan aku sangat beruntung bisa mengambil dua mata kuliah darinya. Kurasa kuliah darinya adalah salah satu yang sampai sekarang masih kuingat. Aku sangat yakin bahwa karena mengikuti kuliah-nya itulah, yang membuatku masih ingin menulis bahkan sampai saat ini.
Tulisan-tulisan di blog ini memang hanya kisah biasa, tidak fantastis, dan lebih ke arah pemikiran abstrak saja. Apa yang tiba-tiba terlintas di pikiranku, dan mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan. Aku bahkan tidak yakin ada yang membaca blog ini atau tidak, heheheh. Tapi aku rasa aku sudah cukup puas dengan mengetahui bahwa aku tidak berhenti menulis, bahwa aku tidak meninggalkan menulis.
Aku rasa aku berhutang pada begitu banyak orang yang telah mengajarku, untuk terus menulis. Tapi yang terpenting aku rasa aku akan berhutang pada diriku sendiri, jika aku berhenti menulis.
Aku menyadari bahwa ternyata aku suka menulis. Terutama ketika sudah lulus kuliah, sepertinya ada rasa berhutang pada diri sendiri karena sekian lama tidak menulis lagi.
Pada masa kuliah, salah satu mata kuliah yang paling aku gemari adalah, Penulisan Populer. Sang Dosen, Pak Ismail (God bless his soul) sudah tiada. Tapi masa kuliah bersamanya tidak bisa kulupakan. Ia selalu datang ke kelas sambil berteriak "merdeka" dan mengangkat kepal tangan keatas. Tugas tulisan mingguan yang ia berikan, walaupun berat, tapi selalu dengan senang hati aku kerjakan. Rasanya begitu menantang untuk menciptakan sebuah kisah atau sebuah artikel, ketika aku duduk semalaman memikirkan topik apa yang bisa dibahas. Ketika harus menciptakan sebuah kisah dari sebuah topik yang membosankan, dan bagaimana cara mengemasnya dalam sebuah tulisan yang menarik.
Lalu ketika kuliah berikutnya, ia akan mengupas hasil tulisan kami. Bagaimana ia akan berkata bahwa kisah roman yang kami ciptakan terlalu picisan. Atau artikel yang kami tulis kurang informatif, atau ketika kisah yang kami ceritakan sudah bagus, tapi terlalu banyak kesalahan teknis penulisan. Sedikit memalukan memang, ketika ia membahasnya dengan gamblang di hadapan semua mahasiswa lain, tapi sangat membanggakan ketika ia mencantumkan tiga titik pada hasil tulisan kita dan menulis kata-kata "kembali ke saya." Artinya ia merasa bahwa tulisan itu cukup baik untuk ia simpan sebagai koleksi pribadinya, dan bahkan bisa ia sertakan pada bukunya yang berikut.
Ia tidak pernah menerima banyak mahasiswa dalam kelasnya, dan aku sangat beruntung bisa mengambil dua mata kuliah darinya. Kurasa kuliah darinya adalah salah satu yang sampai sekarang masih kuingat. Aku sangat yakin bahwa karena mengikuti kuliah-nya itulah, yang membuatku masih ingin menulis bahkan sampai saat ini.
Tulisan-tulisan di blog ini memang hanya kisah biasa, tidak fantastis, dan lebih ke arah pemikiran abstrak saja. Apa yang tiba-tiba terlintas di pikiranku, dan mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan. Aku bahkan tidak yakin ada yang membaca blog ini atau tidak, heheheh. Tapi aku rasa aku sudah cukup puas dengan mengetahui bahwa aku tidak berhenti menulis, bahwa aku tidak meninggalkan menulis.
Aku rasa aku berhutang pada begitu banyak orang yang telah mengajarku, untuk terus menulis. Tapi yang terpenting aku rasa aku akan berhutang pada diriku sendiri, jika aku berhenti menulis.
Tergelitik
Membaca blog seorang teman baikku, aku merasa sangat tertarik, penasaran, bahkan setuju dengan kutipan di blognya itu.
silahkan lihat sendiri di link ini, apakah anda merasakan hal yang sama dengan saya?
silahkan lihat sendiri di link ini, apakah anda merasakan hal yang sama dengan saya?
Jennniiffeerrr
Tiba-tiba aku teringat pada seorang temanku yang mempunyai sebuah kebiasaan untuk mengganti nama orang.
Ketika masih bekerja di Papua dahulu, ada salah seorang driver kami, seorang lokal Papua, yang bernama Jessica. Jessica adalah seorang laki-laki Papua, berbadan tinggi, kulit gelap, dan rambut agak panjang keriting. Ya, dia seorang laki-laki.
Pertama-tama aku kira, itu bukan nama sebenarnya, sampai aku sempat bertanya-tanya keliling juga pada teman-temannya. Ternyata itu memang serius nama aslinya.
Kembali ke temanku.
Setiap hari Jessi (itu nama panggilannya) akan mengantarkan kotak makan siang kami ke kantor. Temanku ini, yang sering susah menemukan kotak untuk departemennya, akan selalu berteriak, "Jennifeeerrr..., kotak punya gue manaaa?" Sepertinya nama Jessica belum cukup, temanku masih harus menggantinya dengan Jenifer.
Kali lain, ketika aku sedang berada di dekat mejanya..., ia sedang memanggil salah seorang Office Boy kami..., "Maaatthheeewww!"
Tidak usah ditanya, nama asli si OB adalah Matius.
Lucunya terlepas dari itu bukan nama asli mereka yang dipanggil, entah kenapa mereka selalu menengok jika temanku ini memanggil. Haha.
Ketika masih bekerja di Papua dahulu, ada salah seorang driver kami, seorang lokal Papua, yang bernama Jessica. Jessica adalah seorang laki-laki Papua, berbadan tinggi, kulit gelap, dan rambut agak panjang keriting. Ya, dia seorang laki-laki.
Pertama-tama aku kira, itu bukan nama sebenarnya, sampai aku sempat bertanya-tanya keliling juga pada teman-temannya. Ternyata itu memang serius nama aslinya.
Kembali ke temanku.
Setiap hari Jessi (itu nama panggilannya) akan mengantarkan kotak makan siang kami ke kantor. Temanku ini, yang sering susah menemukan kotak untuk departemennya, akan selalu berteriak, "Jennifeeerrr..., kotak punya gue manaaa?" Sepertinya nama Jessica belum cukup, temanku masih harus menggantinya dengan Jenifer.
Kali lain, ketika aku sedang berada di dekat mejanya..., ia sedang memanggil salah seorang Office Boy kami..., "Maaatthheeewww!"
Tidak usah ditanya, nama asli si OB adalah Matius.
Lucunya terlepas dari itu bukan nama asli mereka yang dipanggil, entah kenapa mereka selalu menengok jika temanku ini memanggil. Haha.
Tuesday, December 28, 2010
Lagu Genit
Hari minggu, 26 Desember 2010, sewaktu aku sedang santai nonton tv di rumah. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Satu pesan masuk. Pesannya cukup singkat.
"Cuoy, liat Metro buruan, lagunya centil, masa toel-toel"
Penasaran aku langsung mengganti channel tv. Aku menebak mungkin lagu dangdut dan semacamnya yang diputar.
Ternyata...,
Yang ada adalah sebuah konser natal, dan si penyanyi sedang menyanyikan lagu, "Noel, Noel"
Aku langsung tertawa terbahak-bahak, membuat saudara-saudaraku bingung.
Memang, hanya temanku yang satu ini, yang bisa membuat sebuah lagu natal, menjadi lagu genit.
"Cuoy, liat Metro buruan, lagunya centil, masa toel-toel"
Penasaran aku langsung mengganti channel tv. Aku menebak mungkin lagu dangdut dan semacamnya yang diputar.
Ternyata...,
Yang ada adalah sebuah konser natal, dan si penyanyi sedang menyanyikan lagu, "Noel, Noel"
Aku langsung tertawa terbahak-bahak, membuat saudara-saudaraku bingung.
Memang, hanya temanku yang satu ini, yang bisa membuat sebuah lagu natal, menjadi lagu genit.
Subscribe to:
Posts (Atom)
