Anda pernah merasakan sakit bintitan? Rasanya tidak enak sekali bukan? Okelah, mungkin bukan sakitnya yang mengganggu, tapi justru akibat yang ditimbulkan terhadap tampilan wajah kita. Akan ada sebuah benjolan di kelopak atau bagian bawah mata kita. Benjolannya berwarna sedikit kemerahan, dan mata kita, tidak akan bisa terbuka sempurna, hingga akhirnya menjadi tidak simetris antara yang kiri dan kanan.
Tapi bukan itu saja derita yang harus kita rasakan. Derita lainnya adalah, anggapan orang terhadap apa yang telah kita lakukan kalau sampai bisa bintitat. Biasanya mereka akan berkata “makanya, lain kali jangan dudukin bantal,” atau “Iiih, abis ngintipin orang mandi,ya?” Komentar kedua inilah yang paling sering terdengar. Walapun saya tidak bisa menemukan alasan logis, apa hubungannya antara dudukin bantal, ngintipin orang mandi, en bintitan?
But anyways, akhirnya setelah berkelana menyebrangi jalan, mendaki bukit, dan mengelilingi kantor, (ini sebenarnya sih, rute saya ke kantor tiap pagi) Saya akhirnya menemukan 3 jurus--yang katanya--jitu, untuk menghilangkan bintitan. Mari kita mulai.
Jurus pertama! - The Flying Rice-
Untuk jurus pertama ini, bahan yang diperlukan sangat mudah didapatkan. Anda cukup pergi ke dapur, dan mencari satu butir (betul saudara-saudara sekalian, hanya 1 butir!) nasi. Jika ternyata di rumah sedang tidak ada yang memasak, anda bisa pergi ke warteg terdekat dan mencari remah-remah nasi disana (eehehehe…).
Baiklah, dengan bekal 1 butir nasi yang sudah anda peroleh, oleskan secara perlahan-lahan di bagian mata anda yang bintitan. Sesudahnya, bawalah nasi itu keluar dari rumah, atau tenda, atau goa, dimanapun anda tinggal, dan buanglah nasi itu ke jalan. Katanya, nasi yang sudah dioles-oleskan ke mata kita itu, akan membawa bintitan dari mata kita, sehingga, ketika kita membuangnya ke jalan, bintitan kita pun, akan ikut ‘terbuang’.
Jurus Kedua!! – The Urine Splash –
Oke, mungkin begitu anda membaca judulnya akan merasa jijik. Mungkin anda akan berpikir “Urine? Iihh….pliisss deehhh!” Tapi jurus ini sudah saya dengar beberapa kali dari beberapa orang yang berbeda juga. So I suppose there is such thing???
Tentunya anda tidak perlu menebak-nebak lagi, ‘bahan’ apa yang diperlukan untuk jurus kedua ini. Dari judulnya pun, sudah terlihat jelas. (Apa? Belum terlihat juga? Coba cari kaca pembesar!) Katanya, yang terbaik adalah untuk menggunakan urine pada pagi hari ketika anda bangun pagi. Tapii…jangan gunakan urine yang pertama keluar, karena—katanya—disitulah letak kotoran yang keluar dari tubuh kita. Pakailah urine sesudahnya, dan basuhkan di mata anda. Cara ini juga, dikatakan, juga dapat menyembuhkan. Oh ya, disarankan untuk memakai urine sendiri. Jangan sampai anda dikatakan sebagai seorang pervert atau exhibisionist, karena kerjaannya nongkrong di kamar mandi, demi mendapatkan ‘kepunyaan’ orang lain (heuuheuhehee…)
Jurus Ketiga!!! – The Incantation –
Kata incatation sedikit mengingatkan kita pada “Harry Potter” bukan? Tapi saya bukannya meminta anda untuk meletakkan buku “Harry Potter” yang tebalnya sepuluh centi itu, diatas mata anda, dengan harapan agar bintitannya cepat kempes…, tidak. Ada suatu cara lain yang akan saya jelaskan.
Konon katanya, dibandingkan dengan dua jurus pertama yang sudah saya jabarkan. Jurus inilah yang paling ampuh, karena jurus ini melibatkan pemakaiannya mantera didalamnya (angin tiba-tiba berhembus, bagaikan film-film horror yang diputar di tivi, jika keadaan menegangkan). Sebelum kita dapat menggunakan mantranya, ada beberapa hal yang terlebih dahulu harus dilakukan (sama aja kaya dukun, yang supaya mantranya berhasil, harus dikasih duit dulu). Yang harus kita lakukan adalah, ambilah upil (iya, upil) kita sendiri, (lebih baik jangan menggunakan punya orang lain), dan tempelkan di bagian bintitan mata kita. Ketika upil itu sudah menempel di mata, mulailah mengucapkan mantera berikut….
(Angin tiba-tiba bertiup kencang, daun-daun berterbangan, dari kejauhan terlihat seorang kakek, yang sedang duduk diatas sebuah batu, mulutnya komat-kamit sepertinya sedang mengucapkan mantera)
Semar gawe gunung ketiban ghada Ambyar…byar…byar!!!
Itulah bunyi mantera yang harus diucapkan. Dalam waktu singkat—katanya—bintitan anda akan segera hilang.
Penulis serius dengan semua jurus jitu ini, ini adalah kumpulan hasil wawancara dari berbagai sumber, mengenai cara untuk menghilangkan bintitan. Jurus-jurus ini—sepertinya—sudah pernah digunakan oleh mereka yang diwawancara, karena penulis tidak ‘tega’ untuk mencobanya sendiri. Berapa lama waktu rata-rata yang diperlukan, penulis tidak tahu dengan jelas, but you really should try it yourself, and get back to me when you got the result. HEHEHEHEHHE……
Selamat Mencoba!!!
Friday, June 20, 2008
Sunday, June 15, 2008
Loket IT
Ketika aku ‘bermain’ ke ruang IT beberapa hari yang lalu, suatu hal menarik perhatianku. Ruang IT, sekarang, tidak lagi bisa dimasuki ‘orang sembarangan’. Maksud dari kata-kataku ini adalah, sepertinya management, melihat bahwa kami-kami yang masuk ke dalam ruang IT, (baca: aku dan teman-temanku) datang bukan karena masalah pekerjaan, tapi lebih ke hal-hal lainnya. (Baiklah, aku akan mengakui persentase aku datang ke ruang IT untuk masalah pekerjaan, mungkin hanya 20%, ehhehehehe….)
Ruang IT adalah ‘tempat santai’ kami. Jika aku mengantuk, aku akan datang ke ruang IT, duduk di lantai di pojok ruangan, dan menutup mata sebentar. Jika sedang mengantuk juga, tapi kepengen iseng, aku akan ke ruang IT, menganggu teman-temanku, mencuri makanan mereka, menggunakan komputer mereka yang bebas blockingan untuk kesenangan pribadi saat jam kerja…(HAHAHHAHAHA!!!) dan banyak hal-hal lainnya. Aku tekankan ya. Bukan hanya aku sendiri yang menganggap ruang IT adalah ‘ruang santai.’
Okelah, memang terlepas dari anggapan kami mengenai ruang IT adalah ruang santai, sebenarnya justru sebaliknya. Orang-orang akan lalu-lalang, mondar-mandir, bolak-balik, berkunjung untuk mengajukan keluhan mereka seputar masalah IT. Walaupun pada akhirnya banyak juga masalah non IT yang diajukan, atau masalah IT, tapi diajukan pada saat yang tidak tepat, hingga membuat kesal.
Contoh 1 :
Mr. X : Excuse me…(datang saat jam istirahat ke ruang IT)
Anak IT 1 : Yes? (mata tidak lepas dari layar komputer)
Mr. X : I need a LAN cable
Anak IT 1 : What for? (mata masih di layar komputer)
Mr. X : for the internet connection in my room
Anak IT 1 : where is your room? (belum copot juga tuh mata dari layar)
Mr. X : S4 bla…bla…bla…
Anak IT 1 : (melihat sekilas ke peta kamar) You don’t have any internet connection, you don’t need a cable (kembali melihat ke arah komputer)
Mr. X : (diam……..) oooh, oke (baru sadar, akhirnya pergi, kebingungan)
Contoh 2 :
Mr. A : Haloo
Anak IT 2 : Yes? (mata di layar komputer, udah kebiasaan anak IT gak ngeliatin orang yang datang)
Mr. A : Can you help me? my cellphone doesn't work.
Anak IT 2 : (melotot ampe matanya mau keluar kearah Mr. A)
Contoh 3 :
Ms. C : (masuk ke ruang IT) loe lagi sibuk ga?
Anak IT 3 : Nape? (masih bertanya padahal inbox emailnya masih merah semua belum ada yang dibaca en dikerjain)
Ms. C : Gue lagi bete nih, ama cowo gue…
Anak IT 3 : Sama nih, cewe gue juga lagi ngebete-in (melepaskan pandangan dari layar komputer, en akhirnya malah jadi curhat-curhatan)
Oke, mungkin sekarang bisa dimengerti kenapa ruang IT akhirnya diberi pembatas, dan dibuat seperti loket. Bahkan, sekarang, jika kita ingin meminta sesuatu, kita harus menuliskannya di “IT Troubleshoot Table” yang ada di ‘meja loket IT’. Kaya orang kondangan kan? Yang harus mengisi buku tamu segala.
Eiitsss…, tapi jangan salah! Bukan berarti IT yang menjadi terbatas seperti itu, mengurangi intensitas kami, untuk mengganggu mereka. Contohnya, lihat saja gambar dibawah ini. Ditengah-tengah permintaan orang banyak untuk memperbaiki masalah komputer mereka, kami masih menemukan cara untuk mengganggu mereka. Cukup kreatif bukan? Jadi, jika kita tidak bisa masuk, kita tarik mereka keluar.
Seperti kata pepatah…, ada banyak jalan ke roma…HAHAHAHAH!!!

ps:
siapa tau ada yang gak bisa baca
no. 6 "kasihan, tengok aja"
no. 7 "Hi, apa kabar?"
no. 9 "Huh, anak IT ditantangin ama pentul!"
Ruang IT adalah ‘tempat santai’ kami. Jika aku mengantuk, aku akan datang ke ruang IT, duduk di lantai di pojok ruangan, dan menutup mata sebentar. Jika sedang mengantuk juga, tapi kepengen iseng, aku akan ke ruang IT, menganggu teman-temanku, mencuri makanan mereka, menggunakan komputer mereka yang bebas blockingan untuk kesenangan pribadi saat jam kerja…(HAHAHHAHAHA!!!) dan banyak hal-hal lainnya. Aku tekankan ya. Bukan hanya aku sendiri yang menganggap ruang IT adalah ‘ruang santai.’
Okelah, memang terlepas dari anggapan kami mengenai ruang IT adalah ruang santai, sebenarnya justru sebaliknya. Orang-orang akan lalu-lalang, mondar-mandir, bolak-balik, berkunjung untuk mengajukan keluhan mereka seputar masalah IT. Walaupun pada akhirnya banyak juga masalah non IT yang diajukan, atau masalah IT, tapi diajukan pada saat yang tidak tepat, hingga membuat kesal.
Contoh 1 :
Mr. X : Excuse me…(datang saat jam istirahat ke ruang IT)
Anak IT 1 : Yes? (mata tidak lepas dari layar komputer)
Mr. X : I need a LAN cable
Anak IT 1 : What for? (mata masih di layar komputer)
Mr. X : for the internet connection in my room
Anak IT 1 : where is your room? (belum copot juga tuh mata dari layar)
Mr. X : S4 bla…bla…bla…
Anak IT 1 : (melihat sekilas ke peta kamar) You don’t have any internet connection, you don’t need a cable (kembali melihat ke arah komputer)
Mr. X : (diam……..) oooh, oke (baru sadar, akhirnya pergi, kebingungan)
Contoh 2 :
Mr. A : Haloo
Anak IT 2 : Yes? (mata di layar komputer, udah kebiasaan anak IT gak ngeliatin orang yang datang)
Mr. A : Can you help me? my cellphone doesn't work.
Anak IT 2 : (melotot ampe matanya mau keluar kearah Mr. A)
Contoh 3 :
Ms. C : (masuk ke ruang IT) loe lagi sibuk ga?
Anak IT 3 : Nape? (masih bertanya padahal inbox emailnya masih merah semua belum ada yang dibaca en dikerjain)
Ms. C : Gue lagi bete nih, ama cowo gue…
Anak IT 3 : Sama nih, cewe gue juga lagi ngebete-in (melepaskan pandangan dari layar komputer, en akhirnya malah jadi curhat-curhatan)
Oke, mungkin sekarang bisa dimengerti kenapa ruang IT akhirnya diberi pembatas, dan dibuat seperti loket. Bahkan, sekarang, jika kita ingin meminta sesuatu, kita harus menuliskannya di “IT Troubleshoot Table” yang ada di ‘meja loket IT’. Kaya orang kondangan kan? Yang harus mengisi buku tamu segala.
Eiitsss…, tapi jangan salah! Bukan berarti IT yang menjadi terbatas seperti itu, mengurangi intensitas kami, untuk mengganggu mereka. Contohnya, lihat saja gambar dibawah ini. Ditengah-tengah permintaan orang banyak untuk memperbaiki masalah komputer mereka, kami masih menemukan cara untuk mengganggu mereka. Cukup kreatif bukan? Jadi, jika kita tidak bisa masuk, kita tarik mereka keluar.
Seperti kata pepatah…, ada banyak jalan ke roma…HAHAHAHAH!!!
ps:
siapa tau ada yang gak bisa baca
no. 6 "kasihan, tengok aja"
no. 7 "Hi, apa kabar?"
no. 9 "Huh, anak IT ditantangin ama pentul!"
Friday, June 6, 2008
Pergi....
Membosankan….
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku.
Bagaimana tidak? Hanya 2 hari sebelum hari kepulanganku ke ‘penjara’ ini, aku diberitahu bahwa 2 orang teman wanita di section ku, akan mengundurkan diri. Karenanya pengganti mereka akan segera didatangkan.
Sompret! Itu adalah kata pertama yang aku pikirkan, ketika aku mendengar berita itu langsung dari bos ku. Mereka kan, datang setelah aku? Seharusnya mereka pulang setelah aku juga?! Tapi kenyataan berbicara lain.
Ternyata, ketika aku sampai disini, aku mendapat berita yang lebih mengejutkan lagi. Dalam 2 bulan kedepan ini, akan ada 7 orang wanita yang pergi. SIAAAALLLL!!! Dalam 2 bulan, aku akan kehilangan 7 orang teman. Huuhhh…, keadaan yang sangat tidak baik, untuk memulai 4 bulanku disini.
Beberapa orang teman baikku, dari section tetangga, juga, sudah mulai menggodaku.
Fadhil: Nay, loe kapan demob, Nay? Gue akhir bulan ini, dong….
Keisar: Iya, Dil, di Jakarta bulan agustus ada film apa yang bagus, ya?
Kurang ajar mereka. Fadhil akan kembali akhir bulan ini, Keisar akan kembali akhir bulan depan.
Bagaimana ini….begitu banyak teman-temanku yang akan pergi….hiks…, hiks…, hiks….
Mungkin sudah saatnya bagiku untuk pergi juga?
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku.
Bagaimana tidak? Hanya 2 hari sebelum hari kepulanganku ke ‘penjara’ ini, aku diberitahu bahwa 2 orang teman wanita di section ku, akan mengundurkan diri. Karenanya pengganti mereka akan segera didatangkan.
Sompret! Itu adalah kata pertama yang aku pikirkan, ketika aku mendengar berita itu langsung dari bos ku. Mereka kan, datang setelah aku? Seharusnya mereka pulang setelah aku juga?! Tapi kenyataan berbicara lain.
Ternyata, ketika aku sampai disini, aku mendapat berita yang lebih mengejutkan lagi. Dalam 2 bulan kedepan ini, akan ada 7 orang wanita yang pergi. SIAAAALLLL!!! Dalam 2 bulan, aku akan kehilangan 7 orang teman. Huuhhh…, keadaan yang sangat tidak baik, untuk memulai 4 bulanku disini.
Beberapa orang teman baikku, dari section tetangga, juga, sudah mulai menggodaku.
Fadhil: Nay, loe kapan demob, Nay? Gue akhir bulan ini, dong….
Keisar: Iya, Dil, di Jakarta bulan agustus ada film apa yang bagus, ya?
Kurang ajar mereka. Fadhil akan kembali akhir bulan ini, Keisar akan kembali akhir bulan depan.
Bagaimana ini….begitu banyak teman-temanku yang akan pergi….hiks…, hiks…, hiks….
Mungkin sudah saatnya bagiku untuk pergi juga?
Wednesday, May 21, 2008
Dingin en Celana Pendek Tank Top Bodoh
Akhirnya aku berada di Jakarta.
Setelah 4 bulan 2 minggu bekerja membanting tulang di Papua (menurut temanku memang hanya tulang yang bisa kubanting, secaraa..badan ini udah kaya tulang semua....) dan melalui perjalanan yang panjang untuk bisa kembali ke Jakarta (soal ini, akan aku ceritakan secara terpisah) aku bisa kembali ke peradaban. Iya..., iya..., yang aku maksud peradaban itu Jakarta, walaupun dalam hati sepertinya Jakarta makin tidak beradab saja....
Seperti biasa..., setelah sekian lama aku 'terpenjara' di Papua sana, aku berusaha mengejar 'ketertinggalan'ku. Entah berapa banyak mall, restaurant, bioskop, yang sudah aku kunjungi, bukan cuma sekali bahkan..., tapi beberapa kali, hehehehe....
Karena terlalu sering mengunjungi tempat-tempat 'gaul' itu..., aku jadi tersadar akan mode yang sedang 'in' di Jakarta. Oke lah, aku memang bukan seorang pengamat/pakar mode. Aku bahkan akan mengakui dengan terus terang, bahwa aku sangat buruk dalam hal mode. Kalau saja, datang ke resepsi perkawinan dengan mengenakan celana jeans, kaos oblong, dan sepatu kets, diperbolehkan atau at least aku tidak akan diteriaki oleh ibuku untuk berganti baju, aku akan dengan senang hati mengenakannya.
Anyways, back to main topic, mode di Jakarta.
Aku sering melihat bahwa, banyak sekali wanita-wanita, entah ABG atau mereka-mereka yang merasa masih ABG, mengenakan celana pendek (yang super pendek) dan tank top atau u can see (aku sebenarnya akan lebih setuju, jika namanya diganti menjadi everybody can see, cause thats the truth, the whole truth, and nothing but the truth, so help you God).
Aku sempat berbincang-bincang dengan teman-temanku mengenai masalah ini, aku bertanya pada mereka, apa mode berikutnya adalah tidak mengenakan celana sama sekali? okelah, "less is more" but..., I mean...,come on!!!!
Temanku berkomenter bahwa, jika ia mempunyai anak, ia tidak akan membiarkan mereka keluar rumah hanya mengenakan celana--super--pendek, dan tank top (kenapa sih, dibilang tank top? should there be any tank on your top???), kecuali mereka ingin pergi ke pantai. Okay, that makes sense.
Tapi lagi, aku rasa semua orang-orang ini berbagi kebodohan yang sama. (Maaf ya, but I truly think this as a stupidity) Jalan-jalan pake celana--super--pendek, tank top, tapi terus pake syal atau scarf, atau apalah itu namanya, menutupi pundak, karena kedinginan....
COME ON!!! Kalau memang dingin, ya..., janganlah pake celana en baju punya adeknya yang masih TK gitu, pakelah celana panjang. Masih kedinginan juga? pake lengan panjang. Belum hanget juga? Pake kaos kaki. Mode sih, mode..., tapi ya....
I mean, jangan juga demi mode, tapi begitu nyampe rumah minta ama bibi untuk dikerokin. Akibatnya selama 1 minggu lebih gak bisa pake tank top lagi, secara bekas kerokannya masih kentara....
Jakarta..., Jakarta..., pusing ngeliat orang-orangnya....
Setelah 4 bulan 2 minggu bekerja membanting tulang di Papua (menurut temanku memang hanya tulang yang bisa kubanting, secaraa..badan ini udah kaya tulang semua....) dan melalui perjalanan yang panjang untuk bisa kembali ke Jakarta (soal ini, akan aku ceritakan secara terpisah) aku bisa kembali ke peradaban. Iya..., iya..., yang aku maksud peradaban itu Jakarta, walaupun dalam hati sepertinya Jakarta makin tidak beradab saja....
Seperti biasa..., setelah sekian lama aku 'terpenjara' di Papua sana, aku berusaha mengejar 'ketertinggalan'ku. Entah berapa banyak mall, restaurant, bioskop, yang sudah aku kunjungi, bukan cuma sekali bahkan..., tapi beberapa kali, hehehehe....
Karena terlalu sering mengunjungi tempat-tempat 'gaul' itu..., aku jadi tersadar akan mode yang sedang 'in' di Jakarta. Oke lah, aku memang bukan seorang pengamat/pakar mode. Aku bahkan akan mengakui dengan terus terang, bahwa aku sangat buruk dalam hal mode. Kalau saja, datang ke resepsi perkawinan dengan mengenakan celana jeans, kaos oblong, dan sepatu kets, diperbolehkan atau at least aku tidak akan diteriaki oleh ibuku untuk berganti baju, aku akan dengan senang hati mengenakannya.
Anyways, back to main topic, mode di Jakarta.
Aku sering melihat bahwa, banyak sekali wanita-wanita, entah ABG atau mereka-mereka yang merasa masih ABG, mengenakan celana pendek (yang super pendek) dan tank top atau u can see (aku sebenarnya akan lebih setuju, jika namanya diganti menjadi everybody can see, cause thats the truth, the whole truth, and nothing but the truth, so help you God).
Aku sempat berbincang-bincang dengan teman-temanku mengenai masalah ini, aku bertanya pada mereka, apa mode berikutnya adalah tidak mengenakan celana sama sekali? okelah, "less is more" but..., I mean...,come on!!!!
Temanku berkomenter bahwa, jika ia mempunyai anak, ia tidak akan membiarkan mereka keluar rumah hanya mengenakan celana--super--pendek, dan tank top (kenapa sih, dibilang tank top? should there be any tank on your top???), kecuali mereka ingin pergi ke pantai. Okay, that makes sense.
Tapi lagi, aku rasa semua orang-orang ini berbagi kebodohan yang sama. (Maaf ya, but I truly think this as a stupidity) Jalan-jalan pake celana--super--pendek, tank top, tapi terus pake syal atau scarf, atau apalah itu namanya, menutupi pundak, karena kedinginan....
COME ON!!! Kalau memang dingin, ya..., janganlah pake celana en baju punya adeknya yang masih TK gitu, pakelah celana panjang. Masih kedinginan juga? pake lengan panjang. Belum hanget juga? Pake kaos kaki. Mode sih, mode..., tapi ya....
I mean, jangan juga demi mode, tapi begitu nyampe rumah minta ama bibi untuk dikerokin. Akibatnya selama 1 minggu lebih gak bisa pake tank top lagi, secara bekas kerokannya masih kentara....
Jakarta..., Jakarta..., pusing ngeliat orang-orangnya....
Saturday, May 10, 2008
Aduuuhhh Sibuukkkk!!!
Sial! Sudah berapa hari, aku absen menulis.
Aku sibukkkk….
Kesibukanku dimulai sejak pertengahan bulan April, karena teman sekerjaku mengambil his well deserve home leave. Tapi bukan itu saja…, seorang teman yang sangat ‘mencintaiku’ akan mengambil cuti juga, dan dia dengan senang hati menyerahkan her secretarial job to me. Sampai-sampai terjadi perbincangan tingkat manager bahwa aku akan ‘dipinjamkan’ ke section instrument sementara temanku itu mengambil her so not deserve leave (hehehehe…aku mengatakan ini tentunya karena aku tidak rela mendapatkan hand-overan-nya)
Akhirnya, instead of mengerjakan tugas 2 orang. Aku mengerjakan tugas untuk 3 orang. Yes…yes…, I know I am a super woman (ingat! Aku sedang mencoba untuk kembali menekankan salah satu motto hebatku. Siapa yang akan memuji diri kita sendiri kalau bukan kita?)
Akhirnya (lagi!) setiap hari aku akan terbirit-birit. Datang ke kantor jam 7.05 (hehehe….aku memang selalu terlambat….) menyalakan komputerku – menyalakan komputer milik temanku yang terletak di ujung kantor – memeriksa emailku – menyortir dokumen yang masuk – lari ke komputer temanku – membuat report yang harus diserahkan dalam waktu setengah jam, kampret! – mendistribusikan report ke tiga section yang berbeda – kembali ke mejaku – distribusi incoming dokumen – membuat log dokumen keluar masuk – kembali ke meja temanku, memeriksa apakah ada dokumen yang harus dikerjakan, ternyata ada, sial! – kembali ke mejaku, mengerjakan email-email yang masuk – mendapat telpon dari bos temanku, ternyata ia memintaku kesana lagi untuk membantunya – kembali ke mejaku, ada dokumen yang harus diserahkan ke admin, yang terletak di ujung kantor juga – kembali ke mejaku, komputer bosku bermasalah – menelpon IT, tidak ada yang mengangkat telpon – berlari ke ruang IT, yg terletak dekat admin, ternyata mereka ada, hanya saja malas mengangkat telpon, Sial kuadrat!!! – kembali ke mejaku, ternyata ada email yang terlewat untuk kukerjakan, Aarrrggghhhhh!!!i
Kurang lebih begitu selama beberapa minggu belakangan ini. Alhasil, aku sama sekali tidak mempunyai waktu untuk menulis. Boro-boro bikin blog, buka internet aja gak sempetttt!!! Tapi tidak apa-apa, berhubung aku akan dapat menikmati peradaban dalam waktu hitungan hari….aku akan tetap (mencoba) bersemangat dalam melakukan pekerjaanku. AMIN!
Aku sibukkkk….
Kesibukanku dimulai sejak pertengahan bulan April, karena teman sekerjaku mengambil his well deserve home leave. Tapi bukan itu saja…, seorang teman yang sangat ‘mencintaiku’ akan mengambil cuti juga, dan dia dengan senang hati menyerahkan her secretarial job to me. Sampai-sampai terjadi perbincangan tingkat manager bahwa aku akan ‘dipinjamkan’ ke section instrument sementara temanku itu mengambil her so not deserve leave (hehehehe…aku mengatakan ini tentunya karena aku tidak rela mendapatkan hand-overan-nya)
Akhirnya, instead of mengerjakan tugas 2 orang. Aku mengerjakan tugas untuk 3 orang. Yes…yes…, I know I am a super woman (ingat! Aku sedang mencoba untuk kembali menekankan salah satu motto hebatku. Siapa yang akan memuji diri kita sendiri kalau bukan kita?)
Akhirnya (lagi!) setiap hari aku akan terbirit-birit. Datang ke kantor jam 7.05 (hehehe….aku memang selalu terlambat….) menyalakan komputerku – menyalakan komputer milik temanku yang terletak di ujung kantor – memeriksa emailku – menyortir dokumen yang masuk – lari ke komputer temanku – membuat report yang harus diserahkan dalam waktu setengah jam, kampret! – mendistribusikan report ke tiga section yang berbeda – kembali ke mejaku – distribusi incoming dokumen – membuat log dokumen keluar masuk – kembali ke meja temanku, memeriksa apakah ada dokumen yang harus dikerjakan, ternyata ada, sial! – kembali ke mejaku, mengerjakan email-email yang masuk – mendapat telpon dari bos temanku, ternyata ia memintaku kesana lagi untuk membantunya – kembali ke mejaku, ada dokumen yang harus diserahkan ke admin, yang terletak di ujung kantor juga – kembali ke mejaku, komputer bosku bermasalah – menelpon IT, tidak ada yang mengangkat telpon – berlari ke ruang IT, yg terletak dekat admin, ternyata mereka ada, hanya saja malas mengangkat telpon, Sial kuadrat!!! – kembali ke mejaku, ternyata ada email yang terlewat untuk kukerjakan, Aarrrggghhhhh!!!i
Kurang lebih begitu selama beberapa minggu belakangan ini. Alhasil, aku sama sekali tidak mempunyai waktu untuk menulis. Boro-boro bikin blog, buka internet aja gak sempetttt!!! Tapi tidak apa-apa, berhubung aku akan dapat menikmati peradaban dalam waktu hitungan hari….aku akan tetap (mencoba) bersemangat dalam melakukan pekerjaanku. AMIN!
Tuesday, April 29, 2008
Mainichi Ame
Hari ini, seperti beberapa hari sebelumnya, hujan lagi. Hujan deras mengguyur Papua. Suasana seperti ini, membuatku ingin masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, membuat segelas susu coklat panas, memakai selimut yang tebal, dan nonton tv hingga tertidur. Pikiran itu terus menerus berputar-putar dalam kepalaku. Aku begitu tergoda untuk melakukannya. Tapi apa boleh buat, pekerjaan di mejaku masih menumpuk tinggi. Dokumen-dokumen di tray yang sudah menunggu untuk dikerjakan, email-email yang masuk harus dibalas, belum lagi mereka-mereka yang datang untuk menambah dokumen yang sudah menumpuk tinggi tidak beraturan, atau sekedar mencari informasi atau bahkan mencari apakah ada cemilan yang bisa dimakan.
Tapi hujan yang turun tidak perduli tentang pekerjaanku sudah menumpuk, atau tentang proyek ini yang harus mengejar target. Ia tidak perduli bahwa sudah beberapa hari ini ia terus mengguyur kami. Ia tidak memutuskan bahwa, mungkin sebaiknya ia beristirahat dan membiarkan sahabatnya sang matahari keluar untuk menyinari kami sebentar, sebelum ia dan pasukan awannya datang untuk bekerja lagi. Tapi sebenarnya semua hal itu tidak menggangguku, aku menyukai hujan. Aku menyukai duduk di pinggir jendela dan melihat keluar. Aku menyukai berdiri dan berdiam diri di depan pintu melihat rintik-rintik hujan yang jatuh. Hari ini, ketika hujan mulai turun aku berjalan ke pintu belakang kantor kami. Suara hujan yang jatuh di kantor kami yang hanya terbuat dari gabungan-gabungan container, membuat kami harus berbicara lebih keras terhadap satu sama lain. Dering telpon pun terdengar lebih kecil. Tapi aku hanya berdiri melihat hujan yang turun. Aku sengaja mengambil foto suasana saat itu.

Pohon-pohon di kejauhan tidak terlihat jelas karena hujan yang seperti badai, membuat kabut.
Tapi hujan yang turun tidak perduli tentang pekerjaanku sudah menumpuk, atau tentang proyek ini yang harus mengejar target. Ia tidak perduli bahwa sudah beberapa hari ini ia terus mengguyur kami. Ia tidak memutuskan bahwa, mungkin sebaiknya ia beristirahat dan membiarkan sahabatnya sang matahari keluar untuk menyinari kami sebentar, sebelum ia dan pasukan awannya datang untuk bekerja lagi. Tapi sebenarnya semua hal itu tidak menggangguku, aku menyukai hujan. Aku menyukai duduk di pinggir jendela dan melihat keluar. Aku menyukai berdiri dan berdiam diri di depan pintu melihat rintik-rintik hujan yang jatuh. Hari ini, ketika hujan mulai turun aku berjalan ke pintu belakang kantor kami. Suara hujan yang jatuh di kantor kami yang hanya terbuat dari gabungan-gabungan container, membuat kami harus berbicara lebih keras terhadap satu sama lain. Dering telpon pun terdengar lebih kecil. Tapi aku hanya berdiri melihat hujan yang turun. Aku sengaja mengambil foto suasana saat itu.
p.s: Mainichi ame adalah bahasa jepang yang artinya Setiap hari hujan.
Friday, April 18, 2008
A Droom
Kemarin malam saya bermimpi.
Saya bermimpi kembali ke kampus saya di depok, dan bertemu semua teman-teman kuliah saya.
I miss you all guys, really do miss you….

Saya bermimpi kembali ke kampus saya di depok, dan bertemu semua teman-teman kuliah saya.
I miss you all guys, really do miss you….
Subscribe to:
Posts (Atom)
